Stay in Touch with Me

Sunday, December 18, 2011

Pengakuan Sang Pramugari - Part 9

PENGAKUAN GRACE SANG PRAMUGARI
PART 9



LANJUTANNYA KLIK DISINI

CERITA SEBELUMNYA KLIK DISINI


Hotel Room

Pengakuan Sang Pramugari - Part 8

Pengakuan Grace Sang Pramugari
Part 8


Paul Hannigan namanya. Dia terdiam saat saya menyebut namanya. Kata orang diam menandakan jawaban “ya”. Persetujuan tanpa suara. Saya tidak tahu kenapa dia mendadak diam. Mungkin dia malu. Tapi waktu saya berikan nomer telepon saya, senyumnya merekah lagi.
“you don’t mind?”
“don’t mind what?”
“I mean, now I look like a desparate guy. I am in a dating service” dia menggaruk-garuk rambutnya.
Malam itu, saya anggap kencan pertama saya. Sebab sebelumnya saya tidak pernah keluar sama cowok manapun. Satu-satunya cowok yang pernah pergu berdua saya hanya Jimmy. Bajingan itu. Itupun karena saya sempat mengira dia gay. Walaupun saya dan Paul hanya makan malam, rasanya luar biasa sekali. Karena ini yang pertama. Semua pengalaman pertama pasti berkesan. Walau mungkin ini juga merupakan kencan terakhir saya dengan dia. Yang jelas , malam itu saya bahagia. Saya tidak mengharapkan apa-apa. Sungguh. Saya sudah cukup tersanjung, ada seorang pria yang tidak mengenal saya, mengundang saya makan malam bersama.
Paul juga tidak melakukan apa-apa. Maksud saya, tidak ada sikap-sikap romantisnya. Atau yang menjurus-jurus kearah sana. Pokoknya tidak seperti kencan yang biasa kita tonton di film-film roman. Kami Cuma ngobrol. Kadang-kadang saya belajar bahasa inggris dari dia. Bahasa Inggris saya tidak jelek, tapi sering saya salah dalam “pengucapan”. Maklumlah, namanya juga lidah asia. Suka kagok kalau melafalkan bahasa orang barat.
Saya menceritakan sebagian hidup saya padanya. Tapi tentunya tidak bagian malam naas bersama Jimmy itu. Paul juga menceritakan sebagian masa lalunya. Bahwa ia pernah menikah selepas SMA dengan cinta monyetnya. Pernikahan yang tidak berusia lama. Katanya, waktu itu pacarnya hamil. Makanya ia bertanggung jawab dan menikahi wanita itu. Tapi kemudian wanita yang telah menjadi istrinya itu mengaku keguguran, sepulang dari menjenguk kelyarganya di mexico.
“She is Mexican? Wow… she must be pretty. Like…Salma Hayek! Or Pinelope Cruz!” saya membayangkan wajah wanita itu.
“Yeah, But she is a big fat lier” tukas Paul. Dia nampak masih sakit hati atas perbuatan mantan istrinya. Karena, setelah dia mengecek ke rumah sakit dimana mantan istrinya mengaku terpaksa menggugurkan kandungannya, terbukti bahwa semua itu hanya karangan belaka. Mantan istrinya tidak pernah datang d rumah sakit di mexico itu. Bahkan setelah di desak, sang mantan istripun mengaku, bahwa sebenarnya dia tidak pernah hamil.
“She was just using me,”
Paul merasa dimanfaatkan untuk kepentingan imigrasi mantan istrinya yang warga Negara Mexico itu. Saat sekolah, wanita itu hanya memiliki visa pelajar. Yang sebenarnya menurut Paul, bisa diproses menjadi visa kerja. Tapi mungkin karena malas, sang wanita ambil jalan pintas. Membohongi Paul untuk menikahinya. Sehingga otomatis proses kewarga negaraan barunya jadi lebih mudah.
“But… do you love her?” tanya saya penasaran. Saya tidak pernah membayangkan seorang pria bisa menikahi seorang wanita hanya atas dasar belas kasihan. Sekecil apapun, pasti ada cinta yang tersisa. Apalagi mereka pernah pacaran, Pacaran yang cukup intens tentunya. Kalau tidak, bagaimana mungkin Paul percaya kalau pacarnya itu hamil? Mereka tentu telah melakukan semuanya. Termasuk sesuatu yang mestinya hanya boleh dilakukan pasangan suami istri.
Mungkin di Barat sana hal itu sudah biasa. Saya sering lihat di film-film bagaimana cara pacaran orang bule. Melewati malam bersama setelah kencan pertama bukan hal yang tabu. Bahkan, seringkali sehabis minum-minum di bar sepasang pria dan wanita yang baru kenalan di barpun bisa pulang bersama. Karena pengaruh alcohol tentunya. Tapi dengan atau tanpa alcohol, semua itu agaknya sudah merupakan hal yang biasa. Waktu bangun keesokan paginya, tidak ada rasa bersalah atau canggung di wajah dua sejoli yang tidak saling mengenal tapi baru saja bermesraan itu.
Atau barangkali semua itu hanya di film-film saja? Hanya karangan? Mungkin sebenarnya tidak separah itu? Ah, tapi bukankah film itu merupakan potret sebuah jaman? Potret realita yang terjadi ditengah masyarakat umumnya?
Agak lama Paul tidak menjawab pertanyaan saya. Sayapun sudah sibuk dengan alam pikiran saya sendiri. Tentang bebasnya budaya di Barat sana. Saya tidak bisa membayangkan, hidup ditengah tatanan moral seperti itu. Tapi diam diam saya jadi berpikir. Mungkin masih ada harapan buat orang seperti saya. Orang yang di budaya timur sudah tidak punya harga diri lagi. Sebab di Barat sana agaknya keperawanan bukan lagi hal utama. Buktinya tidak pernah ada film barat yang topiknya tentang keperawanan yang terenggut. Ada juga soal perkosaan. Tapi tidak pernah saya nonton film barat tentang konflik suami yang kecewa atau menceraikan istrinya karena sudah tidak perawan lagi.
Mungkin di dunia sana saya masih punya harapan. Mungkin saya tidak perlu merasa terlalu hina dan kotor. Mungkin masih ada pria baik-baik yang bersedia menerima saya. Apa adanya. Dan mungkin saya tidak perlu lagi malu menutupi kejadian itu. Bukankah orang Barat lebih terbuka? Buktinya Paul. Baru beberapa jam ngobrol sudah leluasa menceritakan soal perceraiannya. Padahal buat saya kisah cinta itu sesuatu yang sifatnya privacy. Sesuatu yang akan saua simpan sendiri. Paling tidak, bukan hal yang akan saya jadikan topic pembicaraan dengan orang yang baru saya kenal.
Memang budaya timur agak tertutup. Agak kurang keterbukaan. Bukan Cuma perilaku masyarakat umumnya saja, tapi juga tercermin dalam cara pemerintah memimpin negaranya. Krisis keterbukaan. Semua serba tertutup, tersimpan, terselubung. Makanya mungkin karena itu jadi banyak korupsi puluhan tahun tidak ketahuan. Sampai sekarang ada KPK segala. Berapa sulit KPK itu menguak borok yang telah mendarah daging di negri ini? Berusaha menjebol dinding tirani ketertutupan yang telah begitu tebal.
Cara orang tua mendidik anaknya juga kurang terbuka. Saya mengalami sendiri. Mungkin papa dan mama saya termasuk orang tua yang terlalu disiplin dan kolot dijaman ini. Soalnya saya lihat orang tua beberapa teman saya tidak seperti itu. Mereka masih mengijinkan anak-anaknya berkencan. Keluar malam . bahkan ke diskotik sampai pagi. Tapi sebagian lagi masih menganut paham tradisional. Terutama untuk anak perempuannya. Yang saya maksud tertutup adalah mereka tidak pernah membicarakan soal sex secara terbuka pada anal-anaknya. Seakan – akan mereka membiarkan anaknya mencari tahu sendiri. Tapi kalau ketahuan baca buku porno atau nonton film biru pasti dimarahin. Padahal darimana lagi anak bisa belajar tentang sex? Kalau orang tua tidak pernah menjelaskan apa-apa. Seakan sex itu hal yang tabu. Mencari tahu sendiri pun dilarang. Pusing kan jadinya?
Barangkali karena itu di desa-desa terutama, jadi banyak gadis “kecelakaan”. Hamil diluar nikah. Dinodai kekasihnya. Dan untuk mengatasi semua itu, bukannya orang tua sadar dan memberi penyuluhan sex, malah anak perempuannya buru-buru dinikahkan. Kawin muda. Supaya tidak keburu hilang kegadisannya atau keburu hamil karena keluguannya. Sebetulnya itu bukan solusi terbaik. Tapi begitulah kenyataannya.
Mungkin juga, saya membiarkan diri saya hanyut di malam naas itu, karena rasa penasaran saya. Rasa ingin tahu karena tidak pernah diberi tahu. Jadinya coba-coba sendiri. Entahlah. Toh semua sudah berlalu. Sudah terlanjur. Buat apa juga menyalah-nyalahkan cara pendidikan mama dan papa. Kalaupun mereka mengaku salah, toh keperawanan saya tidak akan kembali seperti semula.
“I loved her. I did” tiba tiba saya dengar jawaban Paul. “But love will fade away, if you don’t look after it. Just like flower. If you forgot to water them, it will die slowly. “
Saya tidak pernah melupakan kata-kata yang kedengarannya sangat indah ditelinga saya itu.
“So you don’t love her anymore, now?”
Paul menggeleng.
“nope”
Ia meneguk sisa red wine yang masih ada di gelasnya.
“Shall we?”
Kamipun pulang. Saya diantar sampai kelobby hotel. Paul pulang naik taksi. That’s it. Hanya itu. Dia hanya menjabat tangan saya.
“Good nite. Thanks for spending an evening with me. I had a great time and I hope you do to”
Itu kata-kata terakhir Paul.
Malam itu, saya tidak bisa tidur. Saya gelisah. Sekitar satu – dua jam, saya hanya bolak-balik resah ditempat tidur. Saya nyalakan televisi, tapi tidak bisa juga berkonsentrasi pada acara yang ditayangkan. Berkali kali saya ganti-ganti channel. Berusaha mencari acara yang bisa mengalihkan kegelisahan saya itu. Sampai akhirnya saya putuskan untuk ke business lounge.
Disana, saya masuk lagi ke website online dating itu. Dimana saya melihat foto Paul dengan nama samara Pinky. Anehnya, saya tidak berhasil menemukannya. Bahkan ketika saya “search” dengan memasukan nama PINKY keluar pemberitahuan seperti ini : The member you searched had deleted his profile.
Delete? Kok bisa kehapus? Siapa yang menghapus? Mungkin Cuma kesalahan teknis. Komputer dan internet kan memang suka begitu. Tapi kemudian saya tahu dari Paul sendiri, bahwa dia langsung mendelete profilenya dari online dating itu. Kencan pertama itu bukanlah kencan terakhir. Bahkan merupakan sebuah awal dari persahabatan yang indah. Persahabatan yang lama-lama menbuat kami merasa saling memiliki. Saling ketergantungan.
Keesokan harinya, saat saya sudah siap untuk terbang, Paul menelpon. Dia berharap saya masih bersedia membantunya mencari kontrakan di Bali. Waktu saya bilang saya kurang paham soal Bali, iapun minta saya mencarikan kontrakan di Jakarta. Dan saya menyanggupinya. Saya agak kaget mendengar budget yang disediakannya untuk ngontrak. Paul menyebut 2500 dollar. Setelah saya hitung-hitung jumlah itu hampir 25 juta rupiah. Saya pikir, itu untuk sewa satu tahun. Ternyata Cuma untuk sebulan! Oh My God, 25 juta buat uang sewa sebulan?
Ternyata jumlah itu bukan junlah yang bombastis. Saya saja yang belum tahu harga pasaran sewa apartemen di Jakarta. Saya Cuma tahu harga kontrakan rumah sederhana. Rumah seperti rumah yang saya tempati sejak kecil. Akhirnya karena mencarikan apartemen buat Paul saya jadi tahu harga-harga. Termasuk jadi belajar banyak mengenai lokasi-lokasi apartemen yang termasuk “prestisius”. Yang biasa dihuni oleh orang asing atau “expat”.
Sejak itu, Paul juga kadang mampir ke Jakarta. Biasanya diakhir pekan. Lama-lama kitapun mulai janjian. Kalau saya pas libur, paul segera terbang ke Jakarta. Lama kelamaan lagi, saya sengaja ambil cuti hanya demi ketemu sama Paul. Dan kalau Paul tidak bisa ke Jakarta, maka dia akan mengirimkan tiket buat saya. Wow! Senang sekali rasanya! Dikirimin tiket! Dibelikan tiket! Walau tiket PP Jakarta – denpasar tidak lebih dari 2 juta rupiah, tapi saya tersanjung sekali! Selama ini belum pernah ada teman yang menghadiahi saya uang 2 juta!
Paul juga lumayan royal. Atau mungkin memang semua orang Barat seperti itu? Gentleman istilahnya. Dia tidak pernah mengijinkan saya membayar apapun. Pokoknya saya tidak boleh keluar uang sepeserpun. Bahkan waktu saya mau beli barang untuk keperluan saya sendiri, ia melarangnya.
“You are with me, so you are my responsibility” begitu selalu katanya. Dan sayapun semakin senang. Karena ini benar-benar pengalaman pertama buat saya. Padahal dia bukan siapa-siapa. Pacar juga bukan.
“Ah, nggak mungkin kalian nggak pacaran!” bantah Desi. Dia salah satu pramugari yang juga suka terbang bersama saya di rute Jakarta- Denpasar. Bedanya, home based Desi di Bali bukan di Jakarta. Desi sering melihat Paul menjemput saya di bandara ngurah Rai.
“Beneran!” bantah saya “Kita cuman berteman”
Desi menyeringai agak sinis.
“Hari gini. Mana ada cowok yang royal kalau belum dapat apa-apa?”
“Maksud kamu?” saya rada tersinggung mendengarnya. Apakah desi pikir saya mendapatkan semua ini karena saya tidur sama Paul?
“Kita sama-sama tahulah. Nggak usah jaim” tukas Desi sembari membedaki wajahnya.
“Jangan nuduh sembarangan! Kalau kamu seperti itu, itu urusan kamu des. Tapi jangan anggap saya sama dengan kamu!” ujar saya tegas.
Desi melotot mendengar ucapan saya. Dalam hati, saya yakin Desi tetap tidak percaya omongan saya. Tapi apa yang saya katakana itu benar. Hubungan pertemanan saya dan paul berjalan sekitar 6 bulan. Dan saya , Demi Tuhan, tidak pernah memberikan apapun. Paling hanya sun pipi kiri kanan saja. Atau pelukan saat akan berpisah. Itupun kami lakukan di depan umum bukan ditempat sepi dan tertutup.
Saya jadi ingat cerita mama soal pramugari. Saya beryukur karena saya tidak perlu menjual diri untuk mendapatkan apa yang saya dapat dari Paul. Paul memberikannya dengan ikhlas. Sayapun tidak pernah minta. Tapi bohong kalau saya bilang saya tidak menikmatinya. Awalnya saya suka risih, menolak. Tapi lama kelamaan jadi terbiasa. Menolakpun pasti dipaksa.
Suatu hari, saya ingat tepatnya di bulan desember, Paul datang ke Jakarta. Seharian dia sibuk di kantor cabang Jakarta. Baru malamnya kami bisa bertemu. Kami bertemu di sebuah restoran Jepang yang ada di lobby apartemennya. Saya berhasil mendapatkan Paul apartemen di Jakarta. Walaupun apartemen itu lebih sering kosong lantaran Paul lebih sering berada di Bali daripada Jakarta. Sebetulnya sayang juga, seperti buang-buang uang saja.
“My job is almost done,” ujar Paul malam itu. Wajahnya nampak lelah.
“You must be happy. Now you can go home to your country”
Paul menatap saya.
“Happy?”
Saya manggut. Apakah ucapan saya salah?
“Are you happy to see me leaving?” ia malah bertanya. Pertanyaan yang telak dan menyadarkan saya. Bahwa saya akan kehilangan dia.
“I will….miss you, I guess” ujar saya.
Paul menghela nafas.
“But you can still come and visit me , right? You love travelling” ujar saya lagi dengan nada menghibur.
“Only if you want me to”
Mulanya saya tidak paham apa maksudnya. Setelah beberapa saat baru aya sadar. Artinya, Paul akan datang jika saya memintanya. Jika saya merindukannya. Jika saya mengundangnya. Kira-kira begitu.
“Do you want me to come visit you?” ia menegaskan.
Saya terdiam


BACA LANJUTANNYA KLIK DISINI

BACA CERITA SEBELUMNYA KLIK DISINI



Hotel Room

Pengakuan Sang Pramugari - Part 7

Pengakuan GRACE sang Pramugari
PART 7



Doa saya dikabulkan Tuhan. Yurike selamat. Lalu setelah Yurike selamat, doa saya berubah menjadi : Ya Tuhan jangan biarkan saya mengalami nasib seperti Yurike.
Dirumah sakit, setelah sadar, Yurike bercerita panjang lebar. Kali ini air matanya bercucuran. Padahal sebelum sebelumnya dia nampak cuek dan tegar. Seakan tidak perduli dengan masa depannya. Ternyata semua itu hanya karena pengaruh obat anti derpresi yang dikonsumsinya selama ini. Obat yang menolongnya untuk mengurangi beban perasaannya walau hanya sesaat. Dan malam itu Yurike mengaku terlalu banyak minum.
“Biasanya aku Cuma minum wine Grace. Tapi malam itu aku stress banget. Akhirnya Jack Di aku tenggak! “ (Jack Di adalah istilah untuk minuman whisky bermerek Jack Daniels)
Yurike pun akhirnya menceritakan semuanya sama saya. Kalau tadinya mungkin dia masih gengsi, sekarang gengsinya sudah lenyap. Dia tidak bisa lagi menutupi apapun dari saya. Bisa jadi juga karena dia merasa berhutang budi sama saya. Bagainanapun , ibaratnya, saya ini lah yang menyelamatkan dia. Kalau malam itu saya tidak datang, saya yakin staff bar itu nggak akan mau membawa Turike ke rumah sakit. Waitersnya aja ogah-ogahan begitu gayanya semalam. Paling mereka akan panggil polisi. Saat polisi datang bisa saja sudah terlambat!
“Siapa sih nama pacarmu itu mbak? “ tanya saya. Baru sadar kalau saya belum kenalan.
“Dave” kata yurike singkat. Tidak berniat memberitahukan nama lengkapnya sepertinya. “Aku ngga akan minta macem-macem kalau dia nggak janji Grace.”
“Dia pernah janji sama mbak?”
Yurike manggut.
“Dia bilang, dia sebanarnya nggak cinta sama istrinya yang di Bali itu. Makanya dia nggak mau punya anak dari istrinya itu. Dia janji akan menceraikan istrinya dan…menikahi aku Grace. Karena janjinya itulah aku…nekad. Aku biarkan diriku hamil…”
“Hah? Mbak…??? Hamil???”
“Sttthhh… kamu janji ya Grace. Ngga boleh ada orang lain yang tau!” tukas Yurike buru-buru. Dia ikut kaget melihat kekagetan saya. Mungkin dia pikir saya sudah tau semuanya dari Dave. Padahal saya belum tahu soal kehamilannya.
“Mbak hamil berapa bulan? Kok masih bisa terbang?”
“Sudah masuk bulan ke tiga Grace. Aku sudah mulai pendarahan. Dokter bilang aku harus cuti. Tapi aku nggak bisa cuti dulu Grace. Darimana penghasilanku kalau aku cuti? Sementara Dave nya juga belum jelas. Buat biaya periksa kandungan aja aku harus ngemis-ngemis kayak apaan aja. Padahal dia tau aku hamil anak dia. Terakhir… semalam…waktu aku desak, dia malah marah. Dia nggak percaya kalau anak ini anak dia…” Yurike terisak lagi. Matanya sudah bengkak karena menangis semalaman.
Dave lalu mengata-ngatai Yurike. Didepan orang banyak. Ya di bar tempat saya menemukan dia semalam itu. Dave mencela profesi Yurike. Terbayang bagaimana malunya Yurike saat itu. Saya yakin ada pengaruh alcohol juga malam itu. Orang yang sober (sadar tidak mabuk) rasanya tidak akan tega melakukan hal semacam itu. Apalagi terhadap orang yang disayangi. Walau mungkin Dave tidak benar-benar cinta, tapi pasti ada sedikit rasa. Bagaimanapun mereka sudah rutin berhubungan selama tiga tahun. Mana mungkin hubungan bisa berlanjut kalau tanpa ada rasa yang mengikat sama sekali. Atau …mungkin saja?
Saya jadi ingat lagi kata-kata Yati si kapster dulu. Semua laki-laki bajingan. Apa betul yang ada diotak laki-laki itu Cuma sex saja? Tanpa rasa sedikitpun? Apa betul laki-laki itu rela berdusta? Mengaku cinta bersumpah setia hanya untuk mendapatkan kenikmatan sekejap itu saja?
Kalau ingat cerita Tanti sih memang seperti itu. Pacaran setahun, begitu dapat kehormatan Tanti, si Ibet menghilang. Jangan-jangan bukan Cuma Tanti korbannya! Makanya Ibet harus buron karena takut dikejar-kejar para gadis korbannya yang menuntut tanggung jawab yang sama seperti yang dilakukan Tanti. Dan kalau itu benar, kalau semua gadis hamil dan menggugurkan kandungannya juga seperti Tanti, artinya ada berapa bayi tak berdosa yang dibunuh karena ulah satu lelaki itu?
Ya Tuhan. Saya lega sekali saat mendengar bayi dalam kandungan Yurike selamat! Walau ibunya hampir kehabisan darah, Tuhan rupanya masih memberikan kesempatan bagi Yurike untuk menjadi ibu. Memberi kesempatan pada bayi itu untuk terus hidup dan berkembang diharim Yurike.
Karena trauma saya pada cerita Tanti, sayapun tak kuasa menahan diri saya untuk menasehati Yurike.
“Mbak, saya mau ngomong sesuatu. Mbak jangan marah atau tersinggung ya. Saya bukan lancang, tapi…saya….”
“Katakan saja Grace…” Yurike memotong basa-basi saya itu.
“Jangan gugurkan kandungan mbak. Please. Jangan bunuh bayi yang nggak berdosa itu. “
Suara saya gemetar. Berat rasanya untuk mengucapkannya. Saya merasa saya ini sok tahu banget sok menasehati orang. Tapi dipihak lainpun saya merasa punya tanggung jawab moral untuk memberikan nasihat itu.
“Mbak sudah bersalah, hamil tanpa suami. Kalau mbak bunuh bayi itu, mbak akan makin berdosa lagi.” Saya kemukakan alasan saya sebelum Yurike membantahnya.
Yurike memegang tangan saya erat-erat. Digenggamnya tangan saya yang hangat itu ke dalam tangannya yang dingin.
“Terimakasih Grace. Saya janji, saya nggak akan gugurin kandungan saya. Saya akan besarkan anak ini walau tanpa suami. Saya akan tebus kesalahan saya melalui anak ini Grace…”
Tekad itu terdengar sangat meyakinkan. Saya peluk Yurike. Saya berdoa penuh rasa syukur. Saya pikir, saya telah menyelamatkan nyawa seorang anak manusia. Tapi ternyata saya salah besar. Yurike masih terus terbang sampai tiga bulan berikutnya. Dan saya perhatikan perutnya sama sekali tidak membesar. Setau saya, kalau sudah 6 bulan hamil ada peraturan wajib cuti. Mungkin saya salah atau lupa aturan cuti.
Sejak kejadian di Bali itu, Yurike sempat mengambil cuti seminggu lebih. Dalam beberapa rute saya tidak ketemu dia lagi. Dia digantikan oleh Imelda. Senior yang super judes. Kata co-pilot kami, si Imelda itu judes karena perawan tua. Dan pernah patah hati sama pacarnya. Konon pacarnya seorang pilot. Tapi Imelda ditinggal kawin sama pacarnya itu. Pacarnya yang pilot itu malahan gossipnya menikah sama seorang artis dangdut Indonesia! Entahlah. Nggak penting juga ngegosippin orang kan?
Suatu hari saya ketemu Yurike di bandara. Rute kamu berbeda. Dan saat itulah saya lihat perutnya masih rata. Padahal kalau dihitung seharusnya dia sudah masuk bulan ke 6 kehamilannya.
“Kok masih langsing aja nih?” sapa saya.
Yurike mendelik. Memberi kode bahwa saya harus diam. Sayapun sadar. Soalnya dulu memang Yurike berpesan agar jangan sampai ada orang lain tahu soal kehamilannya. Bukannya saya tidak bisa memegang rahasia. Tapi, sampai kapan Yurike bisa menutupi kehamilannya? Cepat atau lambat semua orang juga akan tahu kan?
“Sini…”
Yurike menarik saya ke pojokan yang agak sepi. Sementara kru lain masih menunggu pengecekan bagasi, kami sempatkan ngobrol walau hanya beberapa menit saja.
“Sorry, saya keceplosan”
“Makanya hati-hati kalo ngomong! “ sentaknya agak kesal “Asal kamu tau aja, aku sudah ngga hamil lagi”
“kamu…gugurin ?” Saya shock dan kecewa.
“ya iyalah. Aku kan belum nikah! Aku musti bilang apa sama perusahaan kalo tiba tiba hamil? Bakalan dipecat!”
Saya belum sempat menjawab. Yurike sudah meninggalkan saya, mengikuti rombongannya. Kelihatannya rute luar negri karena koper yang dibawa awak pesawat rombongan Yurike itu cukup banyak. Untuk rute local umumnya koper awak pesawat kecil-kecil. Koper besar menandakan rute mereka panjang dan rute panjang umumnya adalah rute internasional.
Saya gagal jadi juruslamat. Gagal mempertahankan nyawa bayi itu. Tapi apa juga hak saya meminta Yurike mempertahankan kehamilannya? Toh kalau bayi itu kahir, yang harus bertanggung jawab adalah Yurike. Yang harus cuti, yang harus melahirkan dan menyusui anak itu ya Yurike. Dengan kata lain yang susah nanti adalah yurike. Saya Cuma bisa memberi nasihat, sok jadi malaikat, tapi nggak akan ikut menanggung resiko dari nasihat yang saya berikan. Sungguh tidak fair. Tidak fair kalau saya kecewa. Atau merasa dibohongi oleh Yurike.
Hidup adalah pilihan, Dan Yurike telah membuat pilihan. Mungkin dia kuatir sama masa depannya. Atau masa depan anaknya juga. Dengan apa dia akan memberi makan dan menghidupi anaknya kalau dia dipecat dari pekerjaannya? Kasihan juga kalau anak itu kelak tumbuh tanpa ayah. Kalau sudah besar dan mulai bisa menanyakan ayahnya, Yurike akan terjebak dalam dilemma lagi. Begitu banyak hal dan pertimbangan yang dilakukan oleh seorang wanita yang hamil tanpa suami. Dan siapalah saya ini, saya belum pernah berada di posisi seperti Yurike. Maka saya tidak berhak protes atau sok tau.
Dalam hati, saya hanya berdoa supaya jangan sampai saya ditempatkan dalam posisi seperti itu. Jangan sampai saya hamil tanpa suami. Doa itu saya ucapkan terus. Sebelum take off dan saat landing. Saya bukannya minta selamat, malah minta supaya tidak hamil sebelum nikah. Artinya saya tidak akan punya anak karena tidak akan pernah ada lelaki yang mau menikahi saya. Ibarat barang, saya ini barang bekasan. Sudah tidak orisinil lagi.
Siang itu, seorang penumpang nampak kurang enak badan. Dari sejak take off dia bersin-bersin terus. Saya dekati dan saya tawarkan bantuan. Soalnya saya tau, kalau hidung lagi tersumbat karena pilek, terbang itu akan terasa menyiksa sekali. Tekanan udara kabin bisa membuat gendang telinga seperti mau pecah rasanya.
“Excuse me, do you need any help?” tanya saya dalam bahasa Inggris. Karena si penumpang itu jelas-jelas bukan orang Indonesia. Rambutnya kecoklatan. Dan saat ia menengadahkan kepalanya menatap saya, matanyapun kecoklatan. Wajahnya… sepertinya saya pernah lihat. Tapi …dimana ya? Mungkin dia actor terkenal yang sedang menyepi mau liburan tenang ke Bali? Kabur dari kejaran paparazzi? Wajahnya kok rasanya familiar sekali.
AHA!
“I got it!” teriak saya spontan.
Paul ikut tertawa walau tidak paham ama maksud saya.
“Got what?” tanyanya heran sambil mentertawakan saya.
“I’ve seen you before! Your nick name is Pinky! Rite?” ujar saya mantap dan yakin.
Paul terdiam. Tiba tiba senyum itu lenyap dari wajahnya.



LANJUTANNYA KLIK DISINI

BACA CERITA SEBELUMNYA KLIK DISINI




Hotel Room

Pengakuan Sang Pramugari - Part 6

PENGAKUAN Grace SANG PRAMUGARI
PART 6
(versi blog beda dengan versi novel. Karena beberapa hal yang menyangut etika maka versi blog di edit)


Saya tidak pernah menceritakan apa-apa pada Tanti. Bahkan sejak dia menceritakan semuanya, saya malah menghindari dari Tanti. Saya ingat kata-kata papa tentang “tanggung-jawab”. Saya nggak mau ketularan gaya hidup Tanti. Saya kuatir, kalau saya bergaul akrab, kelak sayapun akan menghalalkan gaya hidup seperti itu. Intinya, saya tidak mau jadi seperti Tanti. Cukup sudah saya kehilangan keperawanan saya. Saya tidak mau nambah dosa lagi. Tidak mau hamil diluar nihak. Amit-amit kalau sampai harus menggugurkan kandungan. Apapun kata Tanti, bagi saya menggugurkan kandungan itu tetap pembunuhan. Dan itu dosa!  Bukannya saya merasa suci. Saya juga sudah berlumur dosa. Keperawanan saya hilang karena saya salah membuat pilihan. Saya tidak diperkosa.  Saya akui, saya salah. Pengakuan itu yang membuat beban saya sedikit berkurang beratnya. Walau masih memendam kebencian sama Jimmy, tapi dipihak lain saya rasa saya harus berterimakasih juga sama Jimmy.  Kita manusia, tidak pernah tau apa rencana Tuhan. Mungkin dibalik peristiwa naas itu, justru Tuhan mengantar saya pada sebuah hikmah. Karena Jimmy saya dupecat. Dan karena dipecat, Bu Nancy jadi membantu saya . menghantarkan saya pada dunia baru yang lebih cocok buat saya. Yang membuat saya semakin dekat pada impian saya. Sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya. Menjadi pramugari!!! Setelah on board training, saya jarang ketemu Tanti lagi. Kami sering dpaat rute yang berbeda. Saya juga jarang menempati kamar kos saya. Rute saya selama on board masih rute local. Penerbangannya singkat tapi cukup banyak. Saya nggak ngerti soal penentuan skedul terbang ini. Tapi banyak yang heran kenapa saya bisa sering sekali dapat skedul. Sampai suatu hari saya ditanya oleh Pak Gusti yang bertugas dibagian scheduling. “Kamu cape nggak sih?” “Ya cape sih pak. Tapi ngga apa-apa namanya juga masih training” “Lho kamu pikir skedul kamu padat karena masih training?” “emangnya? Salah ya pak?” saya bingung. Saya pikir ini hal wajar buat pramugari yang statusnya masih “trainee”. “Ya nggak juga. Ini karena ada instruksi khusus dari atasan.” “Instruksi apa pak?” saya makin heran.  Pak Gusti menatap saya seolah tidak yakin. Tidak yakin kalau saya tidak mengerti tepatnya. “Moso kamu ndak tahu “ gumam Pak Gusti dengan logat jawanya. “Sungguh. Saya nggak ngerti pak. Saya kan baru sebulan terbang?” Pak gusti lalu menceritakan sedikit. Sedikit sekali. Katanya, saya dapat skedul banyak karena ada instruksi khusus. Dari siapa instruksi itu, Pak Gusti tidak mau menyebutkannya. Normalnya, bagian scheduling lah yang menentukan jadwal dan skedul terbang seorang flight attendance. Dengan kata lain, nasib dan juga pendapatan saya sebenarnya bergantung pada orang-orang seperti pak Gusti. Yang mengatur skedul dan menentukan job-job terbang semua staff .  “Kamu beruntung. Kalau nggak ada instruksi khusus begini, kamu harus berjuang lho untuk dapat skedul” pak Gusti nyengir. Wajahnya penuh rahasia. “maksudnya pak? Berjuang gimana?” “yah nanti juga kamu ngerti sendiri. Nih…skedul minggu depan” pak Gusti memberikan skedul terbang baru untuk saya.  Sungguh sebuah tanda tanya besar buat saya. Instruksi dari siapa sebenarnya? Karena penasaran, saya coba menghubungi Pak Erik. Tapi Pak Erik juga tidak bisa menjelaskannya. Tidak tahu atau mungkin tidak mau menyebut nama pemberi instruksi itu. Padahal saya merasa tidak kenal siapapun di maskapai penerbangan itu. Kok ada orang yang begitu perhatian dan baik hati sama saya? Saya ingin sekali kenal orang itu. Kalau perlu berterimakasih. Karena akhirnya saya dengar juga dari beberapa pramugari senior mengenai soal scheduling ini.  “Ada loh yang lama dianggurin. Cuma disuruh standby tapi gak dipanggil panggil” kata Yurike. Saya terbang bersamma Yurike cukup sering di rute Jakarta-denpasar. Kadang kami juga dapat jatah satu kamar kalau pas ada transit di Denpasar.  “Kamu beruntung! Yang lain malah banyak yang harus nyogok bagian skedul supaya dapat skedul! “ “Nyogok?” “Iya. Kamu pikir aku ini nggak nyogok apa?” Yurike tertawa kecil. Yurike usianya sudah hampir 26 tahunan. Tapi dia masih nyangkut di rute local saja. Aneh juga. Soalnya ada beberapa pramugari lain yang usianya lebih muda , sudah dapat rute internasional. Diantaranya Murni. Saya pernah satu rute dengan Murni beberapa kali. Kemudian Murni dapat rute internasional. Jakarta – Sydney. Setahu saya Murni belum lama juga jadi pramugari. Saya sendiri udah tidak sabar ingin dapat rute internasional. Bosan juga hanya rute local terus.  Saya ingin melihat dunia lain. Ingin keluar negeri! Ingin merasakan salju. Ingin memakai jaket-jaket tebal dan separu boot! Ingin shopping. Ingin juga melatih bahasa inggris saya yang masih pas-pasan rasanya. Walaupun sudah dilatih, kadang saya masih suka kagok kalau bicara langsung dengan turis asing di pesawat tempat saya melayani.  “Mba Ike kok masih local aja sih? Belum dapat rute luar?” tanya saya memberanikan diri. Soalnya saya tidak mau mengalami nasib seperti Yurike. Saya dulu belum sempat menanyakan ‘rahasia’ Murni. Apa rahasianya supaya cepat mendapatkan rute internasional?  “Karena aku nggak bisa nyogok scheduling terlalu banyak! Orang tuaku sakit-sakitan, perlu biaya” kata Yurike setengah mengeluh. “nyogok?” “Lha iya. Emang kamu nggak? “ Yurike tertawa rada sinis. Rupanya iapun mengira saya ini sering dapat skedul karena nyogok! Tawa Yurike mirip tawa pak Gusti. Padahal saya betul-betul tidak tau kenapa. Dan saya benar-benar tidak pernah nyogok! Gimana caranya untuk nyogokpun saya tidak tahu. “Nggak mbak, Swear!” “ah nggak usah mnuafiklah. Kita semua sama-sama tau. TST. Tau sama tau!” Yurike masih tetap tidak percaya. “Jadi kalau nyogok sebenarnya mbak bisa dapat rute internasional juga?” saya kembali pada pokok permasalahan. Soalnya percuma berusaha meyakinkan Yurike.  Lebih baik saya focus sama pertanyaan saya. Saya ingin tahu, apa yang menyebabkan karir Yurike mentok begitu lama di rute local? Karena saya tidak mau mentok seperti dia. “Dapat skedul rute local aja jarang, gimana aku bisa lompat ke internasional? Harusnya aku nyogok lebih gede lagi. Tapi ya itu tadi, gak mampu ngasih lebih. Pasrah aja deh. Rejeki nggak kemana. Aku cabut dulu ya” Malam itu kami transit di denpasar. Yurike sudah dandan cantik. Tanpa seragam dia kelihatan seperti foto model. Bajunya hitam ketat sexy membentuk lekuk tubuhnya yang langsing. Yurike bilang, dulunya dadanya agak rata alias Cuma cup A. Sekerang sudah cup C. waktu saya tanya, berapa biaya memperbesar payudara, Yurike bilang dia tidak tahu. Soalnya operasinya gratis! Dokter yang meng up grade ukuran bra nya itulah yang akan dia temui mala mini. Dokter berkebangsaan Australi yang menetap di Bali dan membuka sebuah klini aesthetica di Bali juga. Servis di klinik itu sangat beragam. Mulai dari beauty dental , perawatan kulit, slimming sampai operasi bedah plasti. Mulai dari hidung sampai payudara, semua bisa di reparasi atau rekonstruksi. Saya curiga jangan jangan hidup Yurike juga sudah tidak asli lagi. Juga kelopak matanya. Yurike keturunan tionghoa. Wajahnya khasi Chinese. Kalau di bandara, dia kelihatan lebih mirip dengan pramugar-pramugari maskapai penerbangan Hongkong yang seragamnya hijau-hijau itu. Matanya agak sipit, tapi karena dia tau cara dandan, mata sipit itu malah jadi unik. Seperti mata kucing Malam itu Yurike juga memakain kontak lens hijau. Sehingga matanya jadi makin eksotis lagi. Kalau dia nenatap seakan bisa menghipnotis yang menatapnya. Gara-gara Yurike juga saya ikut-ikutan beli kontak lens. Saya pilih warna biru tua. Jadi tidak terlalu mencolok. Hanya kalau kena cahaya saja warna biru itu kelihatan samar-samar. Bagi saya ini lebih keren dan anggun daripada warna yang mencolok. Saya pernah lihat orang mengenakan kontak lens biru muda yang malah membuat dia kelihatan seperti orang buta! Lagian aneh dong, kalau rambut hitam kelam terus matanya tiba-tiba biru mencuat seperti itu? Tidak natural sama sekali.  Yurike tidak pernah mengajak saya kalau ada acara dimalam hari. Dia selalu pergi sendiri. Dia juga nggak menceritakan apa-apa. Hanya bilang kalau dia menemui kekasihnya, si dokter bedah plastic itu.  “Udah berapa lama kalian pacaran?” tanya saya agak penasaran. “Yah kira-kira tiga tahun lah” “Udah lama dong? Ada rencana married?”  Yurike menggeleng sembari menghela nafas. “kok?” saya heran melihat reaksi yurike yang tidak semangat itu. Biasanya, wanita yang sudah pacaran selama itu pasti sudah membuat rencana-rencana masa depan. Bukankah pacaran selalu dilanjutkan dengan step berikutnya? Kalau tidak ada rencana menikah, buat apa juga pacaran? Tapi ternyata pemikiran seperti itu hanyalah teori dalam buku saja. Dalam realita, tidak semua orang berpacaran dengan tujuan menikah. “Gimana caranya nikah kalau dianya sudah punya istri?” Yurike tersenyum pahit. “kamu…dikhinatin maksudnya? Dia kawin sama orang lain” tanya saya kaget. “Justru dia yang berkhianat sama istrinya” Yurike tertawa kecil “I’m his partner in crime.” Saya masih belum paham waktu mendengar pengakuan Yurike itu. Tapi lama-lama saya ngerti sendiri juga. Setelah mengamati dan mendengar beberapa kali percakapan Yurike dan kekasihnya itu di telepon. Kelihatan jelas kalau pertemuan mereka memang ‘sembunyi-sembunyi’. Dokter itu usianya sudah 50 tahunan lebih. Istrinya ada dua. Satu ditinggal di Negara asalnya dan di Bali dia menikah lagi dengan perempuan Indonesia. Kata Yurike sih dia menikah bukan karena cinta tapi untuk mempermudah ijin-ijin kerja dan tinggalnya saja. Konon jika menikahi perempuan Indonesia, orang asing bisa lebih mudah mengurus surat surat imigrasinya. “kalo cinta sama istrinya, mana mungkin dia pacaran lagi sama aku, yak an? “ ujar Yurike suatu hari. Saya dulu yakin, bahwa cinta sejati itu tidak berdasar atas keindahan fisik belaka. Cinta sejati itu lebih dalam dari keindahan yang dinikmati oleh mata. Saya belajar itu dari mama dan papa. Mama itu, walau dimata saya dia cantik, sebetulnya tidak bisa masuk kategori cantik secara umum. Jujur. Walau dia ibu kandung saya, saya harus obyektif. Tapi papa mencintai mama. Kalau hanya atas dasar penilaian fisik, mungkin papa akan memilih Tuti. Si pramugari yang diceritakan mama dulu itu. Mama sendiri mengakui kecantikan Tuti. Tapi mama tidak kalah set. Tidak minder ataupun mundur hanya karena merasa kalah cantik. Buktinya mama bertahan. Dan akhirnya mama yang menang. Artinya, cinta itu bukan sekedar perlombaan fisik. Papa pasti melihat sesuatu yang lebih dalam diri mama. Papa dan mama waktu itu baru tunangan. Papa masih bisa memutuskan pertunangan itu dan pindah ke hati Tuti. Tapi papa tidak melakukannya. Papa memilih mama bukan karena kecantikan fisiknya. Pasti ada sesuatu yang lebih dari itu. Sesuatu yang…. Saya sudah tidak miliki lagi. Sesuatu yang masih jadi momok dan syarat utama dalam sebuah pernikahan. Minimal, pria baik-baik pasti masih memegang teguh syarat itu. Menikah hanya dengan gadis baik-baik juga. Dan gadis baik-baik tentunya mereka yang bisa mempertahankan kehormatannya. Harga dirinya, keperawanannya. Sebetulnya tidak adil. Saya merasa diri saya masih termasuk gadis baik-baik. Buktinya saya tidak sebejat Tanti. Saya juga tidak selingkuh dengan suami orang seperti Yurike. Saya tidak tidur dan kencan dengan puluhan lelaki seperti tante Meta tetangga kami dulu. Sya hanya kecolongan. Salah membuat pilihan sehingga terjebak dalam dua dunia seperti sekarang ini. Di satu pihak, saya masih merasa sebagai cewek baik-baik, dipihak lain saya merasa sama kotornya dengan mereka yang saya sebutkan diatas. Sama, karena sama-sama sudah kehilangan kehormatan. Beda, karena saya tidak keterusan. Tidak kebablasan. Malam itu, sambil nunggu Yurike, saya online dengan computer hotel. Pramugari memang dapat previllege untuk menggunakan fasilitas bisnis center di hotel ini. Sejak terbang, saya suka jadi susah tidur. Padahal badan ini cape sekali rasanya. Tapi mata tidak bisa diajak kompromi untuk istirahat. Saat browsing internet, tiba-tiba saja muncul iklan online dating. Karena iseng dan gratis, sayapun sign up mendaftarkan diri. Setelah sig up saya bisa masuk ke portal itu dan melihat wajah-wajah pria yang jadi member disitu. Web site ini judulnya khusus untuk orang asing yang mencari pasangan dari asia. Karena kebanyakan prianya bukan asia, tapi wanitanya justru di dominasi oleh wanita-wanita asia. Selama 10 menit, paling banyak muncul wanita dari Philipina. Sekilas wajah mereka mirip wajah wanita Indonesia.  Ada sebuah wajah yang sempat memikat hati saya. Wajah pria tentunya. Dari data namanya PINKY. Pasti nama samara. Fotonya keren. Close up. Ambutnya potongannya rapih. Kecoklatan. Matanya juga kecoklatan. Wajahnya buat saya sih sangat ganteng. Lokasinya di Australia. Dia mendambakan wanita asia untuk diajak berhubungan serius. Jelas sekali dari pesan yang ditulis di profilnya yang bunyinya seperti ini : Singles only! If you are not into long term relationship (marriage) please do not contact me! Wah ! artinya dia serius banget nih! Saya sempat kaget karena baru sekali ini ngintip website online dating. Dulu sih sudah pernah dengar, tapi saya tidak menyangka kalau ada orang yang benar serius mencari pasangan hidup di internet! Saya pikir online dating hanya buat kencan saja. Yah semacam cari teman lah. Ternyata salah. Lalu say abaca juga di bagian testimonial. Isinya pasangan-pasangan bahagia yang menemukan jodohnya di website itu. Saya jadi sangat tertarik. Tertarik untuk mencoba. Tapi saya tidak punya kartu kredit saat itu. Untuk jadi full member saya harus punya kartu kredit karena akan dikenakan iuran bulanan. Niat saya tertunda. Malam itu tiba-tiba ada telepon masuk. Walau saya punya handphone, saya jarang dapat telepon. Paling dari bagian scheduling yang masuk. Selebihnya, teman saya masih juga sedikit. Sama seperti dulu. Mungkin memang saya ditakdirkan untuk kesepian seperti ini. Walau sudah jadi pramugari dan ketemu banyak orang, saya tetap saja tidak punya banyak teman. “Hallo?” “Grace?” terdengar suara pria diujung  sana. Saya agak kaget, soalnya tadi caller ID yang masuk datangnya dari Yurike. Kok suaranya cowok? “You have to come here now! I need yyour help!”  “Ini si….” Saya segera sadar untuk menggunakan bahasa Inggris “who is this?” “It doesn’t matter who I am now. You will know latter. Just come! Now! Grab a cab and ask the driver to take you to seminyak…” suara itu menyebutkan sebuah tempat di Seminyak.  “But…” “Now! She really need your help!” “who?” “Yurike!”

BACA LANJUTANNYA KLIK DISINI

BACA CERITA SEBELUMNYA KLIK DISINI


Hotel Room

Saturday, December 17, 2011

Layar Lebay ANTV Senin 19 Des 20:00 PLAYBOY LEBAY with 7 ICONS

LAYAR LEBAY ANTV
Ftv Comedy super kocak dan lebay
setiap SENIN jam 20:00 WIB di ANTV


SENIN 19 DESEMBER
jam 20:00 WIB

PLAYBOY LEBAY
Framly, Ronald Gustav dan 7 Icons girls (Angela Tee, Mezty, Linzy, Grace, Natly, PJ & Vanilla )


Kalau kamu dan pacar kamu punya masalah, call : BENNY. Dia bisa segalanya. Mulai dari ngebenerin ac rusak sampai menjadi juru damai yang akan bikin cewek kamu ngemis-ngemis minta baikan sama kamu! Saking asiknya dapat profesi baru sebagai "juru damai", Benny lupa kalau ia harus menolong sahabatnya, DUDE, yang sedang bermasalah dengan istrinya.
dibintangi 7 bidadari cantik dan centul dari group 7 Icons - Ftv ini layak ditonton karena "fresh" dan kocak abis!


JANGAN LUPA, HABIS NONTON IKUTI KWISNYA DI TWITTER! Follow @zarazettirazr

Hotel Room

Pengakuan Sang Pramugari - Part 5

PENGAKUAN SANG PRAMUGARI
PART 5



BAB 5

Saya sangat sayang sama papa dan mama , orang tua saya. Wajar kalau anak suka ngelawan dan ribut sama orang tua. Namanya juga beda generasi, pasti banyak perbedaan antara anak dan orang tua. Tapi semua itu tidak melunturkan cinta dan hormat saya pada orang-orang yang telah melahirkan dan membesarkan saya. Mama biarpun memang galak, tapi jelas sudah menurunkan sifat disiplin pada saya. Termasuk sifat keras kepala saya, pasti juga saya dapat dari mama. Sementara dari papa, saya mendapat ketenangan. Karena papa pendiam orangnya. Kalau hati lagi galau, duduk di sebelah papa saja rasanya sudah adem. Mungin aura postif itu memang menular. Tidak perlu papa menghibur, cukup bersebelahan saja menular rasa adem dari hati papa ke hati saya yang sedang galau.
Seperti malam itu, sehabis bertengkar dengan mama, saya duduk sebelahan sama papa diteras. Mama masih ngamuk-ngamuk. Kedengaran dari luar piring dan gelas yang dibanting-banting. Bukan dibanting sampai pecah, tapi dihentakkan dengan keras kemeja. Luapan emosi mama disalurkan saat menata meja makan.
“Kamu yakin sama keinginan kamu itu?” tanya papa.
“Yakin banget. Malahan itu satu satunya yang saya mau pa,”
Papa menghela nafas.
“Papa dukung dong. Bujukin mama. Mama ngga setuju.”
“Hidup kamu kan punya kamu sendiri. Apapun itu, jalankan, jangan dengar kata orang lain”
“maksudnya, saya musti ngelawan mama?”
“Ya dilarangpun kalau kamu mau pasti akan tetap kamu lakukan kan? Anak yang lebih kecil dari kamu saja bisa, apalagi kamu. Kamu sudah dewasa. Larangan itu bukan halangan.”
Saya agak tidak paham maksud papa.
“Jadi, papa setuju? Papa nggak ngelarang kan?”
“Papa nggak bisa melarang. Tapi papa juga nggak bisa bilang kalau papa setuju. Papa hanya bisa bilang, terserah kamu. Kamu sudah dewasa, bisa berpikir sendiri. Membuat keputusan sendiri. Dan juga harus bertanggung jawab sama keputusan kamu itu”
Tanggung jawab. Kata itu sudah sering saya dengar. Tapi kali ini maknanya baru terasa. Seakan kata “tanggung jawab’ itu merupakan sesuatu yang ‘berat’. Yang serius. Bukan main-main. Bukan sekedar kata-kata. Percakapan singkat dengan papa malam itu , saya rekam dalam hati dan selalu saya ingat seumur hidup saya.
Tanggung jawab – kata yang mudah diucapkan tapi begitu sulit untuk dijalankan. Seiring dengan bergulirnya waktu, empat bulan masa pendidikan berlalu dengan sangat cepat. Saya yang secara akademik tidak punya ptestasi yang bisa dibanggakan, ternyata cukup jenius saat menyelesaikan pendidikan pramugari! Mungkin karena tekad saya benar-benar bulat untuk menjadi pramugari. Teori yang pernah saya dengar dulu itu ternyata benar. Kalau kita enjoy dan focus pada satu hal yang benar benar kita inginkan, hasilnya pasti akan lebih baik.
Saya terpaksa menentang larangan mama. Dengan sebait restu dari papa dan sebuah pesan berjudul “tanggung jawab”, saya beranikan hati saya untuk meneruskan cita-cita saya. Setiap malam, saya selalu berdoa, mohon agar mama memaafkan saya dan mengikhlaskan saya. Karena hal ini juga, saya memutuskan untuk keluar dari rumah. Rasanya malu, sudah menentang masih tinggal numpang di atap yang sama. Ini bukan Cuma soal gengsi, tapi jujur, saya merasa nggak enak kalau harus menentang secara terang-terangan. Maksudnya, kalau mama melihat saya tiap hari pergi-pulang dari pendidikan pramugari. Bukankah itu akan menyakiti hati mama tiap hari? Jadi lebih baik saya pergi.
Karena uang pas-pasan, saya Cuma bisa indekos di sebuah rumah kos yang tak jauh dari lokasi pendidikan. Maksudnya supaya ngirit ongkos transport. Saya jalan kaki hampir tiap hari. Kalau lagi beruntung, saya nebeng sama Tanti, teman seangkatan di pendidikan. Tanti ini sebenarnya tidak begitu cantik. Biasa saja. Tapi menurut orang asing mungkin dia termasuk “eksotis”. Wajahnya sekilas mirip penyanyi Anggun C sasmi. Cuma bedanya, Tanti masih polos belum di poles secara benar. Kami menjadi dekat karena saya suka membantu Tanti berdandan. Hasilnya lumayan, Tanti jadi lebih ‘kinclong”. Karena saya kan jelek-jelek gini pernah kursus kecantikan. Jadi saya paham cara menonjolkan kelebihan di wajah dan menutupi kekurangan yang ada.
Rambut Tanti yang tadinya keriting kriwil juga saya ubah total dengan catok. Jadinya lurus berkilau dan keren. Apalagi rambut Tanti sebenarnya cukup tebal. Bintang iklan shampoo juga kalah indah rambutnya dengan rambut Tanti yang sekarang ini.
Tanti ini anak orang cukup berada. Keluarganya berasal dari Halmahera Barat. Sejak SMA Tanti sudah dititipkan dirumah pamannya di Bandung. Sampai lulus SMA pindah ke Jakarta beberapa bulan untuk meneruskan kuliah. Sayangnya, pergaulan Jakarta membuat Tanti malas kuliah.
“Gue keasikan main jadinya beb” ujar Tanti dengan gaya bicaranya yang sangat “gaul” itu. Padahal, dari lahir sampai besar saya ini anak Jakarta. Tapi ilmu gaul saya kalah jauh sama Tanti yang anak perantauan itu.
“Terus loe de o?” (do : drop out dari kuliah)
“Ya sebelum di de o, gue out sendiri aja. Biar lebih terhormat”
“Orang tua lo? Pasti kecewa” saya ingat kekecewaan mama waktu saya menolak kuliah dan memilih ikut kursus kecantikan. Sekarang mama lebih kecewa lagi karena saya akan jadi pramugari. Sebuah profesi yang telah melukai hati mama dengan trauma. Sebuah profesi yang buat mama ngga beda jauh dengan pelacur.
“mereka nggak tau. Mereka taunya gue masih kuliah di fakultas hukum” tanti tersenyum nakal.
“Hah? Kok bisa?”
“Ya, om gue aja di Bandung nggak tau kalo sebentar lagi gue akan terbang tingiiiiiii jadi pramugari. Hahahaha” tanti malah tertawa. Seakan-akan bohong itu sesuatu yang menyenangkan buat dia.
“Kalo ketahuan gimana?” Saya penasaran banget dibuatnya. Kok ada orang bohong dengan ekpresi puas begini ya? Buat saya, bohong itu adalah sesuatu yang menyiksa. Contohnya waktu saya menutupi kejadian naas itu. Saya nggak tahan. Makanya akhirnya saya curahkan semua di hadapan Bu Nancy.Bahkan dihadapan mama pun saya mengakuinya. Karena saya nggak tahan menyimpan kebohongan terlalu lama. Takut membusuk di dalam hati dan meracuni organ-organ tubuh saya yang lain. Lagipula ada pepatah bilang : sesuatu yang busuk lambat laun baunya akan tercium juga.
“Kalo keatahuan ya…sudah. Pokoknya gue sudah dapat apa yang gue mau. Kalo sekarang gue jujur, gue bakalan stress karena pasti diomelin gara gara berhenti kuliah” Tanti meneruskan “Lagian, kalo mereka tau gue stop kuliah, uang kiriman bakal di stop! Gue makan apa dong?”
“Jadi lo masih dapat kiriman dari orang tua lo?”
“Yoi. Mereka ada duit kok, gue ngga morotin mereka” ujar tanti enteng.
“enak dong. Nggak kaya gue” saya merenung.
“emang lo ga dibiayain ortu lo lagi beb?” Tanti kayaknya rada heran.
Saya menggeleng.
“jadi lo hidup pake duit darimana? Loe nge kos siapa yang bayar?”
“Bayar pake tabungan. “
“Tabungan? Nah, duit tabungan itu loe dapat darimana? “Tanti seperti nyelidikin “aaahh gue tau deh…loe simpenan ya?”
“hah???” saya kaget mendengar tebakan Tanti.
“tenang beb, gue nggak bakal menghina loe kok. Bagi gue sah-sah aja. Hidup kan pilihan,”
“Gue bukan cewek simpenan!” saya pun protes.
“Terus darimana duit loe? Udahlah, sama gue ga usah gengsi-gengsian” Tanti menyalakan rokoknya. Oh ya, Tanti memang perokok berat. Saya tidak tahu bagaimana cara Tanti menghentikan kebiasaan ngebulnya itu nanti. Kalau sudah harus dinas menempuh rute-rute panjang. Pasti Tanti stress karena di pesawat bahkan di bandara tidak boleh merokok. “Gue juga dulu pernah di piara om-om”
“what???” mata saya terbelalak.
Rasanya tidak percaya. Soalnya tanti kan bukan orang susah? Masih dapat kiriman uang dari orang tua. Tidak seperti saya yang rasa kesulitan soal ekonomi. Kalaupun mau jadi peliharaan om-om, harusnya saya lebih punya alasan. Tekanan ekonomi , kira kira begitu.
“Loe gak pernah makan kuliahan sih ya? Maksud gue, loe ga pernah kuliah kan?”
Saya menggeleng.
“Jangan pikir kampus itu tempat orang yang serius belajar . Ngga semuanya niat jadi sarjana. Banyak yang kuliah sekedar dapat status ‘mahasiswi” supaya tarifnya naik dan penyamarannya ngga ketahuan!”
“Maksud loe?” saya makin bingung.
“Yah, banyak ayam yang menyamar jadi mahasiswi. Bahkan banyak yang sengaja disekolahin sama sugar dadynya, “
“sugar apa?”
“Sugar dady. Itu istilah om-om yang melihara mahasiwi beb” tanti menjelaskan sembari menyalakan sebatang rokok lagi. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari pendidikan. Hari terakhir. Tanti katanya mau nraktir saya makan-makan untuk merayakan hari terakhir masa pendidikan kami ini.
Lalu Tantipun meneruskan ceritanya soal pengalamannya di kampus. Bahwa dia justru mengenal dunia “ayam” di bangku kuliah. Kata Tanti, dia dikenalkan temannya yang sudah duluan nyebur menjalani profesi kamuflase ini. Kamuflase maksudnya : status mahasiswi tapi pekerjaan sebenarnya adalah escort. Istilah sopan buat “jual diri”. Kata Tanti, escort itu tidak sama dengan pelacur.
“Pelacur itu kan menjajakan diri di pinggir jalan, atau di bar-bar. Kalo escort nggak sehina itu beb. Kita milih-milih client. Client kita bukan orang sembarangan yang mungut kita dari pinggir jalan! Client kita orang-orang terhormat yang minimal punya rumah dan punya mobil!” tanti menjelaskan dengan rasa bangga. Seakan-akan pekerjaan itu adalah pekerjaan terhormat. Padahal, menurut mama, pramugari saja beda tipis sama pelacur. Apalagi kalau mama tau soal profesi escort ini. Bisa kena stroke mama saya!
Waktu pertama kenalan dengan si Om bernama Marcus itu, Tanti langsung terlena.
“bayangin aja, baru kenal, gue udah diajak belanja ke mall. Ke butik mahal! Si Om naruh kartu kreditnya dikasir. Terus dia pergi sebentar, katanya ada janji sama orang di mall yang sama. Gue sama teman gue itu bebas beli apa aja di butik itu. Tinggal gesek kartunya si om! Apa nggak gokil?”
“Tapi habis itu pasti ada imbalannya kan? Maksud gue, pasti si Om menginginkan sesuatu dari lo kan?”
“ya iyalah! Emang gue bego! Gue udah siap lah dengan resiko itu. Teman gue juga udah ngebisikin.”
“Dan buat loe, that’s okay?” semudah itukah seseorang memutuskan untuk menjadi escort?
Tanti manggut.
“I’ve got nothing to loose beb. Gue udah ga perawan lagi sejak SMA!”
GLEK.

BACA LANJUTANNYA KLIK DISINI

CERITA SEBELUMNYA KLIK DISINI


Hotel Room

Friday, December 16, 2011

Pengakuan Sang Pramugari - Part 4

PENGAKUAN SANG PRAMUGARI
PART 4



Seumur-umur saya tidak menyangka akan terlibat dalam masalah hukum. Dari kecil juga sangat tidak suka sama yang namanya pengacara. Kalau perlu nggak usah berhubungan sama yang namanya pengacara. Trauma. Waktu bengkel papa dan om Awi itu bangkrut, papa sempat urusan sama pengacara. Papa sih nggak mau cerita, karena kuatiw anak-anak ikut stress. Atau bahkan takut, namanya juga kita masik kecil-kecil. Mendengar kata pengadilan pasti terkesan “menyeramkan”. Identik dengan penjara. Di dunia pikiran anak-anak kecil yang masih naïf, orang-orang yang berurusan dengan pengadilan hanyalah pelaku criminal. Penjahat.
Di dunia nyata sebenarnya kebanyakan justru orang yang tidak bersalah yang masuk penjara. Soalnya orang-orang yang punya uang dan salah bisa melakukan segalanya. Maaf, ini fakta sekaligus pengalaman pribadi. Karena om Awi itu lebih punya uang, makanya dia bisa menuntut papa sampai harus membayar berlipat ganda. Melebihi modal papa sebenarnya di bengkel itu. Sementara papa, yang merasa Om Awi tidak menepati janji untuk mengurus operasional, tidak bisa berbuat apa-apa. Saya rasa semua juga sudah tahu ya, dari kasus-kasus besar yang terjadi di Negara ini. Dari kasus-kasus orang terkenal yang melibatkan uang puluhan bahkan ratusan Milyar. Bahkan uang Negara sendiri yang raib sampai sekarang belum tuntas di utus sampai KPK regenerasi tiga kali.
Semua fakta yang saya alami merujuk saya untuk percaya pada UUD. Ujung-Ujungnya Duit. Dan saya semakin yakin dengan prinsip dan cita-cita saya. Saya mau jadi orang kaya. Terserah orang mau sebut saya matre atau apapun. Hidup saya ini milik saya. Saya berhak menentukannya sendiri. Lagipula kalau saya kaya nanti, mereka akan berhenti mencibir. Mereka akan berlomba-lomba ingin jadi sahabat saya. Saya yakin itu. Kalau orang miskin matre, di omongin. Tapi kalau orang miskin itu dapat loetere jadi kaya, akan dikerubutin. Tidak ada orang yang tidak suka uang. Tidak ada orang yang tidak mau jadi kaya.
Setelah disidang secara tidak resmi di hadapan Bu Nancy, saya akhirnya dipecat juga. Bahkan disidang beneran karena saya mengamuk di ruangan Bu Nancy dan melukai kepala Jimmy dengan vas bunga Kristal. Vas bunga itu, anehnya tidak pecah. Tapi telinga Jimmy mengalami pendarahan dan pelipisnya mendapatkan 10 jahitan. Sejujurnya, buat saya 10 jahitan dan pendarahan kuping itu belum cukup untuk melunasi dosa dia pada saya. Dia telah merenggut masa depan saya! Rasanya tidak akan ada nilai yang pantas untuk menuntaskan dendam saya pada Jimmy. Sayangnya, saya tidak bisa membuktikan kejadian malam itu.
Mungkin , setelah saya pikir-pikir lagi, mestinya saya panggil polisi detik itu juga. Bukannya malah nurut di usir pergi oleh Jimmy. Tapi kala itu saya sedang galau sekali. Tidak terpikir sama sekali untuk memanggil polisi. Saya tidak punya saksi, begitu kata pengacara saya. Bahkan, sepertinya pengacara saya sendiri nggak percaya sama cerita saya mengenai malam naas itu. Karena semua orang taunya Jimmy itu gay. Mana ada gay meniduri perempuan? Dan Jimmy punya saksi, kekasihnya yang sesame jenis itu. Jimmy juga tidak malu membeber fakta bahwa dirinya kaum pecinta sesama pria.
Hari itu saya sudah bersiap-siap untuk siding. Penghasilan saya empat bulan ludes untuk membayar pengacara. Pengacara mana yang mau kerja tanpa downpayment? Apalagi dimata mereka, saya ini salah dan sangat butuh pembela. Tapi ditengah kenaasan itu muncul suruhan Bu Nancy. Asistennya. Namanya Yudit.
“Siang mba Grace” Yudit menyapa. Bajunya rapih, warna pink pastel. Kelihatan sangat feminine sekali dan pas untuk badannya yang tinggi langsing itu.
“Mba Yudit?” saya agak kaget. Soalnya selama ini saya tidak begitu akrab sama Yudit.
“Ini ada titipan dari Ibu” Yudit memberikan sebuah amplop. “Ibu juga pesan bahwa Jimyy sudah membatalkan tuntutannya. Jadi mbak nggak usah ke pengasilan. “
“Lho, kok bisa?” Saya masih shock. Belum bisa mencerna berita itu dengan baik.
“Bu Nancy sudah mengatur semua sama mas Jimmy. Mbak tenang saja. Ya? Baca saja itu surat titipan Ibu. Ibu nunggu khabar Mbak sekarang juga. Saya pamit ya mbak”
Kehadirah Yudit yang Cuma kurang dari 10 menit itu kemudian mengubah seluruh hidup saya. Jimmy mencabut tunutannya, karena Bu Nancy berhasil bernegosiasi dengan sebentuk imbalan. Entah apa imbalannya. Baik hati sekali bu Nancy. Saya pikir dia berpihak pada Jimmy, ternyata tidak. Bu Nancy masih kasihan sama saya.
Di dalam amplop, ternyata ada sebuah surat dari Bu Nancy yang juga mengubah jalan hidup saya. Satu lembar surat pribadi dan satu lembar surat keromendasi dari beliau untuk seorang kepala HRD sebuah maskapai penerbangan di Jakarta.

Dear Grace,
Pertama kali kamu masuk ke salon saya, kamu sudah mengingatkan saya pada diri saya sendiri waktu saya seusia kamu. Cantik tapi masih mencari-cari makna hidupnya. Jujur, saya jatuh hati sama kamu pada pandangan pertama. Saya bukan lesbian . Saya seperti melihat pantulan diri saya sendiri. Saya juga tidak punya anak, Grace, mungkin itu yang membuat saya menganggap kamu seperti anak saya, karena kamu sangat mirip dengan saya.
Saat usia saya sebaya kamupun saya masih dalam kebimbangan. Tak begitu paham kemana kaki ini akan melangkah. Mengalir begitu saja mengikuti takdir. Takdirlah yang membawa kamu ke salon saya. Takdir mempertemukan kita. Dan takdir juga yang memisahkan kita.
Maaf saya terpaksa memecat kamu. Demi kebaikan kamu juga. Karena client saya mengancam akan menuntut kamu dan salon saya. Tapi saya akan bayar semua itu dengan memberikan kamu sebuah masa depan yang lebih baik. Dan saya yakin, insting saya tidak pernah salah, kamu pasti sukses menjadi pramugari. Seperti saya dulu…
Segera temui Pak Erik. Bawa surat rekomendasi dari saya. Mudah-mudahan kamu segera bisa terbang. Melanglang buana. Mencari masa depan dan jalan hidup kamu ke tempat yang lebih luas….

Salam sayang
Nancy

Jadi pramugari? Tidak pernah terpikirkan sama sekali! Naik bis sajasaya mabuk darat, apalagi terbang? Saya juga belum pernah merasakan terbang jauh. Dulu pernah tapi hanya ke Jogya. Itupun hanya sekali, menjenguk keluarga papa yang meninggal disana. Karena harus segera menghadiri pemakaman, makanya papa memutuskan naik pesawat bukan naik kereta atau bis seperti biasanya.
Tapi dalam hati, saya cukup kaget mendapat kesempatan ini dari Bu Nancy. Sangat tidak menyangka, kalau Bu Nancy diam-diam memperhatikan, bahkan menyayangi saya. Katanya saya mirip dengan dirinya. Apa artinya kalau sudah tua nanti saya akan seperti Bu Nancy? Not bad. Bu Nancy, untuk wanita seusianya terlihat masih sangat cantik. Sangat terawatt. Tapi dalam hati saya berharap, mudah-mudahan bukan Cuma fisik saya saja yang kelak mirip Bu Nancy, tapi juga nasib saya.
Teringat lagi saya pada kisah Bu Nancy. Dulunya pramugari. Ketemu jack pot, terus jadi nyonya besar dan sekarang pengusaha. Luar biasa sekali! Di saat orang lain masih stress menjalani kuliah, Bu Nancy sudah melanglang buana. Gratis pula! Di saat mahaiswa baru pada lulus kuliah, Bu Nancy sudah ketemu jodoh , seorang pengusaha kaya mantan penumpang pesawatnya. Di saat karyawan-karyawan berjuang untuk kenaikan jabatan dan gaji, Bu Nancy sudah buka perusahaan sendiri. Sungguh hebat dan hemat waktu! Ini resep instan untuk mewujudkan cita-cita saya!
Selesai menganalisa, sayapun tidak buang-buang waktu. Segera saya temu si Pak Erik itu. Surat Bu Nancy agaknya cukup sakti. Hari itu juga saya disuruh mengisi formulir dan melengkapi beberapa persyaratan yang dibutuhkan. Lalu Pak Erik menjelaskan dengan singkat tapi cukup jelas, bahwa saya harus mengikuti training selama lebih kurang 4 bulan di sebuah sekolah fligh attendant yang sudah bermitra dengan maskapai penerbangannya itu. Setelah itu saya boleh mulai kerja dengan status magang atau “trainee”. Cuma 4 bulan! Mana ada kurus sesingkat itu yang bisa menjamin langsung dpaat kerja?
Kuliah saja minimal 4 tahun. Kursus-kursus lain seperti akunting, book keeping, marketing juga tahunan sebelum bisa mendpaat sertifikat. Belum lagi setelah itu harus cari kerja sendiri! Saingannya banyak! Sebelum dapat kerja mungkin harus menulis puluhan CV dulu sampai salah satunya ada yang berhasil. Harus keluar ongkos dulu untuk mondar-mandir interview. Sedangkan jadi pramugari, hanya sekolah 4 bulan sudah bisa langsung “on board” begitulah istilahnya. Dan dengan surat rekomendasi sakti Bu Nancy ini saya sudah pasti diterima!
“Ada pertanyaan?” tanya pak Erik setelah menjelaskan semua prosedur.
“Mh… biaya pendidikannya, berapa ya Pak?” tanya saya kuatir. Soalnya uang tabungan saya hampir habis untuk bayar pengacara. Dan itu adalah down payment yang tidak bisa dikembalikan. Bahkan, kalau kasus nya terus bergulir, saya masih harus menambah biaya pengacara itu. Untungnya kasus itu dicabut. Walau uang saya tidak akan kembali, minimal saya tidak harus pinjam uang orang tua untuk membiayai pengacara.
“Biayanya sekitar 15 jutaan lah, kurang lebih” sahut pak Erik enteng.
GLEK.
“lima belas juta pak?” saya menelan ludah. Darimana saya bisa dapat uang sebanyak itu? “Nggak harus sekaligus kan pak? Maksud saya…bisa dicicil? Bulanan? Atau semesteran seperti kuliah?” tanya saya penuh harap.
Pak Erik menatap saya. Keningnya berkerut.
“Kenapa kamu pusing?”
“Soalnya saya nggak punya uang sebanyak itu Pak. Saya baru kehilangan pekerjaan saya”
“Kan Bu Nancy yang atur semuanya?”
“Bu Nancy?” Gantian kening saya yang berkerut.
“Iya. Barusan dia sudah telepon saya juga kok. Saya sudah bicara sama Bu Nancy sebelum kamu datang kemari”
“Jadi?”
“Jadi biaya pendidikan kamu semua sudah diberesin sama Bu Nancy. Kamu tinggal daftar kesana. Data kamu semua nanti saya yang urus dari sini. Pokoknya tau beres. Tinggal urus admin ke sekolah itu. Selesai deh” Pak Erik menutup foldernya. “ada pertanyaan lagi?”
“Mh…nggak pak. Trimakasih”
“Jangan terimakasih sama saya. Terimakasihnya sama Bu Nancy. Kamu sudaranya Bu Nancy ya? “
Saya menggeleng
“Bukan. Saya pernah kerja sama beliau”
“O. Kok wajahnya mirip-mirip ya?” Pak Erik menatap saya agak tajam. Sayapun membalasa tatapan itu. Baru sekarang saya perhatikan kalau Pak erik usianya kira-kira juga sebaya dengan bu Nancy. Mungkin dulu mereka rekan sejawat? Mungkin Bu Nancy pernah jadi pramugari di maskapai yang sama?
“Bapak kawan lama Bu Nancy?” saya memberanikan diri bertanya.
“Ya. Dulu saya juga awak pesawat. Sering terbang satu rute sama Nancy “ Pak Erik tersenyum. Ada kenangan dalam senyum tipisnya itu. “Tapi saya meneruskan kuliah saya. Begitu lulus jadi sarjana psikologi, saya melamar jadi HRD di perusahaan yang sama. Nggak terbang lagi. Cape”
“O. Jadi meski sudah kerja sebagai pramugari, masih bisa kuliah juga ya pak? Bapak hebat. Pekerja keras!” puji saya jujur. Saya sendiri tidak akan mampu melakukannya. Kerja sambil kuliah? No way. I want to enjoy my life.
“Bener deh, wajah kamu mirip banget sama Nancy. Tadi saya pikir kamu anaknya. Bener, bukan saudara?”
“Bu Nancy nggak punya anak pak”
“Punya. Tapi meninggal…”
“O.” saya kaget lagi.
“Kamu nggak tau?”
Saya menggeleng.
“Wah, kalau gitu saya keceplosan” tukas Pak Erik. “jangan bilang Nancy kalau saya nyebut soal anaknya ya? Dia ngga suka bicara soal anaknya. Janji ya?” Pak Erik sepertinya kuatir.
“janji pak. Makasih pak, saya permisi”
Langkah saya terasa sangat ringan. Seolah-olah rasanya saya ini sudah terbang tinggi! Padahal mengikuti pendidikan saja belum! Tapi entah kenapa saya sudah punya firasat bahwa saya sudah selangkah lebih dekat pada cita-cita saya! Firasat itu makin kuat, setelah saya mencari-cari informasi mengenai dunia pramugari. Berapa penghasilannya, bagaimana gaya hidupnya dan bagaimana ritme kerjanya. Semua terdengar asyik! Nggak sulit sama sekali. Apalagi, memang saya berniat untuk mandiiri. Sudah tidak betah tinggal sama orang tua. Dengan jam terbang yang tinggi, saya akan jarang dirumah! Saya bisa menikmati kamar hotel! Jarang-jarang saya nginap di hotel.
Pakaian seragam pramugari juga rata-rata keren. Sexy. Anggun tapi juga sexy menurut saya. Dan semua pramugari itu wajahnya juga selalu cantik. Jarang ada pramugari yang wajahnya amburadul. Pasti di pendidikan nanti juga saya akan diajarkan cara dandan, pikir saya. Dan saya sudah punya bekal urusan merias diri. Aneh juga, kenapa nggak dari dulu saya berpikir untuk jadi pramugari ya? Bahkan tidak terlintas sama sekali.
“apa??? Pramugari???” pekik mama begitu mendengar cerita saya.
“Iya ma! Hebat nggak? Gratis lagi sekolahnya! Cuma 4 bulan! Habis itu Grace langsung kerja! Langsung ke luar negri! Melanglang buana gratis!” ujar saya dengan riang gembira.
Wajah mama langsung murung. Jelas kalau mama tidak setuju.
“Ma?” saya heran. Buat saya ini sebuah keberuntungan, yang harus di syukuri bukan untuk disesali. Apalagi ditampik!
“Mama ngga setuju”

KLIK DISINI UNTUK LANJUTAN PART 5

BACA CERITA SEBELUMNYA KLIK DISINI


Hotel Room

Pengakuan Sang Pramugari - Part 3

PENGAKUAN SANG PRAMUGARI
PART 3




Jimmy nggak main-main sama perkataannya. Di malam dia mengusir saya. Saya paham, dia marah karena saya teriak teriak , menampar dan mencakar dia sampai berdarah. Tapi dipihak lain, saya juga ingin dia memahami perasaan saya. Bagaimana dengan persahabatan yang telah terjalin? Apakah itu tidak berarti apa-apa buat dia? Saya pikir dia sudah sangat mengenal saya. Seharu-hari dia sahabat yang memahami perasaan saya. Tapi malam itu, malam disaat dia sudah “menyatu’ dengan saya sebegotu jauh, dia malah berubah! Bukannya dia makin mengenal saya, sebaliknya dia menjadi orang asing yang buas!
“Yah namanya juga laki-laki. Laki-laki tuh semua begitu. Habis manis sepah dibuang”
Saya kaget mendengar ucapam Yati Kapster. Saya jadi paranoid sejak kejadian itu. Kuatir ada orang lain tau perbuatan saya dan Jimmy.
“Maksud kamu apa Yati?”
“Itu… si Budi pengen kawin lagi”
“Hah?” lega juga saya, ternyata Yati bukan sedang membicarakan saya. Saya baru sadar kalau Yati sebetulnya lagi bicara di handphone. Mungkin sama istrinua Budi. Budi office boy, mau kawin lagi? Ya Tuhan. Apa yang terjadi dengan dunia? Berapa sih penghasilan seorang office boy? Kok berani nikah lagi? Apa dia sanggup membiayai dua istri? Belum lagi anak-anak. Setahu saya anaknya Budi sudah tiga orang.
Yati Kapster masih bicara ditelepon.
“Yeee kamu jangan mau di cerai begitu saja! Rugi dong! Kamu harus minta uang cerai! Uang tunjangan! Anak-anak kamu mau dikasih makan apa? Gengsi? Gengsi ngga bisa bikin perut kenyang taukkk. Gengsi ngga bisa beli pakaian, ngga bisa bayar kontrakan. Makan aja tug gengsi. Jaman sekarang yang penting itu duit. Duiittt! “ suara Yati emosi sekali. Kalau Yati yang sebenarnya tidak terlibat permasalahan saja bisa segitu emosinya, bayangkan perasaan istrinya Budi. Istri yang akan ditinggalkan.
Saya tahu, kebanyakan keluarga di Indonesia masih tradisional. Walau ada keluarga yang suami istri sama-sama kerja, tapi masih banyak istri –istri yang bergantung sepenuhnya pada penghasilan suaminya. Bahkan banyak juga yang merelakan karirnya untuk jadi ibu rumah tangga. Hanya mengurus rumah, suami dan anak saja. Sayapun pernah membayangkan akan jadi istri seperti itu. Karena mama saya juga seperti itu adanya. Kalaupun saya jadi ibu rumah tangga, suami saya harus kaya raya! Harus bisa mencukupi semua kebutuhan saya. Dan uang bulanan dari suami harus lebih besar dari gaji yang bisa saya peroleh jika saya bekerja! Kalau tidak, buat apa? Apa untungnya? Lebih baik tetap kerja.
Tapi, sekaya apaun suami, kalau akhirnya terjadi perceraian, nyonya besarpun akan jatuh miskin. Apalagi hukum di Negara kita ini belum jelas mengatur soal perceraian. Setahu saya sih memang ada pasal yang menyebutkan bahwa suami harus memberikan tunjangan pada istrinya jika menceraikan. Tapi ada juga suami yang memfitnah istrinya dengan tuduhan perselingkuhan – hanya supaya mereka terbebas dari tanggung jawab untuk membayar tunjangan. Saya pernah dengar soal itu dari Tante Mei, teman gereja mama.
Padahal suaminya itu pengkhotbah. Tapi pas mereka bercerai, borp-boro tante Mei dapat bagian kekayaan. Suaminya memang pandai. Perceraian itu mungkin sudah lama diniatkan dan direncanakan dengan rapih. Sehingga semua harta milik mereka, tahu-tahu sudah dijual dan pindah tangan ke orang lain. Jadi saat pembagian harta gono-gini Tante Mei tidak dapat sepeserpun karena suaminya ternyata tidak punya apa-apa lagi. Mama bilang sih, mama yakin harta itu dipindah namakan oleh sang suami secara diam-diam. Masih milknua, tapi secara legalitas sudah milik orang lain. Permainan kotor belaka. Singkat kata, sering sekali kaum wanita, istri, yang jadi korban.
Saya yang belum menikahpun sudah merasa jadi korban laki-laki. Jimmy! Bajingan sialan serigala berkulit domba itu sudah menghancurkan kepercayaan saya pada kaum adam. Sungguh. Dulu, walaupun banyak mendengar cerita kekejaman lelaki, saya tidak serius menanggapinya. Paling hanya sebatas simpati. Sangat beda rasanya setelah mengalaminya sendiri. Perceraian memang menyakitkan, tapi kehilangan kehormatan, lebih menyakitkan lagi! Apalagi setelah itu saya dihina, diusir dan diancam!
“Siapa yang ngancam kamu?” tanya bu Nancy .
Saya akhirnya tidak kuat. Sejak malam itu, Jimmy selalu mencari gara-gara dan mencari kesalahan saya. Saya dipermalukan di depan pelanggan berkali-kali. Bahkan pernah, Jimmy sengaja menambahkan pewarna pada cat rambut yang sedang saya olah. Diam-diam saat saya meleng dia menambahkan warna merah itu. Hasilnya, rambut Bu Siska yang harusnya dicat pirang jadinya merah menyala. Saya bukan Cuma dimarahin, dibentak-bentak di depan semua orang, tapi juga…dipecat!
“Grace, kamu saya pecat karena merugikan kostumer!”
“Tapi itu semua terjadi karena Jimmy BU”
“apa hubungannya sama Jimmy? Yang mengecat rambut Bu Siska kan kamu? Bu Siska juga marah sama kamu! Dia ngadu sama saya! Katanya, kalau saya nggak mecat kamu, dia akan tuntut salon ini ke pengadilan!” Bu Nancy emosi nada bicaranya.
Pasti Bu nancy kuatir. Reputasi itu memang hal penting untuk usaha apapun. Apalagi salon. Saya juga tidak menyalahkan Bu Siska. Saya kasihan dan saya terima salah. Tapi saya marah sama Jimmy, karena saya tahu Jimmy yang melakukannya!
“Atas dasar apa kamu menuduh Jimmy?” tanya Bu Nancy setelah saya ceritakan dugaan saya. Ya memang hanya dugaan, karena saya tidak melihat sendiri. Alibi saya hanya satu : saya yakin dan sadar betul tidak mencampur warna cat yang salah. Jadi pasti ada orang lain. Tentunya orang yang sengaja mau mencelakakan saya.
“Di salon ini, nggak ada orang yang benci sama Bu siska kan , Bu?”
“maksud kamu apa? Jangan berbelit belit deh. Waktu saya nggak banyak!”
“yang ada justru orang yang benci sama saya Bu. Dan orang itu adalah Jimmy!”
“Setau saya kalian berteman baik? Kok bisa jadi musuh?”
“Ibu nggak tau apa yang terjadi diantara kita”
“Ada apa emangnya?” Bu Nancy jadi penasaran sekarang. Dia yang tadinya cuek, menghadapi saya sambil melakukan tugas lain di laptop, sekarang berubah jadi focus.
“dia… saya…” saya tak bisa mengucapkannya. Saya tidak mungkin menceritakan kejadian kotor itu pada siapapun. Sebab itu artinya sama saja dengan membuka aib sendiri kan?
“Bilang terus terang! Kalau dia salah saya akan fair! Saya orangnya fair Grace” desak Bu Nancy.
Saya terisak-isak lagi. Bahkan tersengal-sengal sampai sesak nafas. Ada batu yang mengganjal, yang ingin saya muntahkan tapi tidak bisa. Karena batu itu sangat kotor, memalukan, aib. Cukup saya dan Jimmy yang tahu. Kalau bu Nancy tahu, ada resiko dia akan cerita pada orang lain. Lama-lama, dari mulut ke mulut, berita itu akan menyebar seperti sel kanker. Apalagi ini dunia salon. Dunia dimana orang-orang hobby bergunjing. Orang yang mereka tidak kenal saja dijadikan bahan gunjingan. Apalagi gunjingan tentang orang yang mereka kenal. Pasti makin seru gunjingannya.
Tapi, saya akhirnya memilih untuk beterus terang. Saya tidak mau kehilangan pekerjaan saya! Saya tidak mau hak saya ditindas dan dianiaya! Cukup sudah Jimmy menghancurkan harga diri saya. Saya tidak akan beri dia kepuasan untuk menang lagi sekarang! Saya sudah bertekad bulat. Saya harus kuat. Kalaupun nanti jadi bahan gunjinga, so what? Toh itu bukan gossip. Itu kenyataan! Saya memang salah. Saya akan terima resikonya jadi bahan gunjingan. Pokoknya keadilan harus ditegakkan.
Biar Jimmy juga jadi bahan gunjingan! Biar semua orang tau siapa dia sebenarnya! Maling! Bajingan! Dia bukan seperti yang semua orang kenal selama ini. Dia bukan lelaki santun yang baik hati dan ramah pada siapapun. Dia monster. Kejam! Tidak punya perasaan.
“Kamu jangan fitnah orang sembarangan Grace!” Bu Nancy kaget, tapi juga seperti tidak terima. Maklum, Bu Nancy memang sayang sama Jimmy. Bahkan sudah seperti anaknya sendiri.
“saya tahu ibu bakalan tidak percaya. Ibu sayang sama Jimmy. Jimmy banyak jasanya sama ibu. Saya juga anak baru disini. Ibu lebih lama kenal sama Jimmy daripada kenal saya. Tapi Demi Tuhan Bu, saya nggak bohong” hati saya sudah mantap.
Entah darimana datangnya kekuatan itu. Mungkin batu yang tadinya mengganjal siap dimuntahkan itu sekarang telah berubah jadi batu karang. Tumbuh menjadi benteng kokoh. Bukan untuk dimusnahkan lagi. Melainkan menjadi perlindungan yang menopang kekuatan saya. Kekuatan untuk membela diri sendiri dan mencari keadilan.
Tidak ada lagi rasa malu itu. Sirna sudah. Nasi sudah jadi bubur. Saya sudah kecebur dan basah. Kepalang tanggung. Kalau saya jatuh, lebih baik saya tarik Jimmy supaya ikut jatuh sama-sama! Saya nggak mau jadi pihak yang terus menerus dirugikan dan menangis. Air mata saya sudah kering. Tetesan terakhir nya baru saja terjadi didepan Bu Nancy. Tiba-tiba saya menjadi kuat.. Sangat kuat! Kesedihan berubah dalam sekejap menjadi amarah! Dendam! Ya, saya sangat ingin membalas dendam pada Jimmy! Bahkan pada semua laki-laki, kecuali papa saya.
Papa lelaki sabar dan setia. Pekerja keras yang tidak pernah mengeluh. Tidak juga melirik perempuan lain. Meski mama sering ngomel-ngomel kalau kekurangan uang, papa tidak pernah meninggalkan mama. Menjawab pun papa tidak berani. Paling hanya diam. Lalu mama berhenti sendiri. Kalau habis marah-marah, mama suka membuatkan papa kopi susu. Mungkin mama merasa bersalah tapi gengsi untuk minta maaf. Dan papaun tidak perlu mendengar permintaan maaf mama. Secangkir kopi susu adalah komunikasi tanpa bahasa diantara mereka berdua. Sungguh indah. Sungguh langka untuk jaman yang sudah berubah semakin edan ini.
Bu Nancy tidak percaya begitu saja. Iapun lalu menyuruh asistennya memangil Jimmy.
“Ingat ya Grace, kalau kamu bohong, awas!” Bu Nancy mengancam.
“Ibu mau tanya Jimmy? Sudah pasti dia akan menampik tuduhan itu bu! Mana ada maling yang ngaku maling!” ujar saya penuh keberanian. Betul kan, sudah tidak ada lagi rasa takut dalam diri saya. I’ve got nothing to loose anyway. Saya sudah akan dipecat. Dan ini satu satunya kesempatan saya untuk bebas dari pemecatan. Saya harus buktikan Jimmy yang memfitnah saya . Jimmy sudah mengancam saya. Malam itu, terngiang kata-katanya “Gue ngga mau lihat loe lagi. Ngga disini ngga di salon!” Apa itu bukan ancaman? Makanya setelah itu dia selalu cari gara-gara supaya saya dipecat. Supaya dia nggak perlu lagi melihat muka saya di salon tempat kerjanya.
Padahal apa salah saya sama dia? Bukannya dia yang punya dosa sama saya? Saya tidak mengambil apapun milik dia. Tapi dia sudah mengambil harta saya yang paling berharga. Kegadisan saya! Siapa yang akan mau menikahi saya nanti? Kalau kelak saya punya pacar, saya harus bilang apa? Bohong sampai malam pertama? Terus terang dengan resiko di putus hubungan? Saya sudah tidak punya harga lagi. Pantas kegadisan itu disamakan dengan “harga diri” karena begitu kamu kehilangan keperawanan kamu, hilang juga harga diri kamu.
Mungkinkah, Jimmy merasa bersalah pada saya? Mungkin dia tidak mau melihat saya lagi, karena saya memgingatkan dia pada rasa bersalahnya? Mungkin dia hanya gengsi mengaku salah, nggak mau minta maaf. Mungkinkah? Rasanya nggak mungkin. Dia memang kejam! Kejam dan egois. Karena begitulah sifat laki-laki! Seperti kata Yati kapster. Laki-laki memang egois! Mau enaknya sendiri. Nggak bisa bertanggung jawab atas perbuatannya.
Jimmy masuk. Gayanya santai seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Dia masih tetap ganteng dan gagah seperti biasanya. Pakai kaos putih rada ketat sehingga menunjukkan otot-ototnya yang kekar. Celana jeans juga ketat dengan sabuk metal. Di kantong-kantong saku jeansnya terselip peralatan penataan rambut. Berbagai macam sisir, jepitan dan lain – lain. Jimmy manager sekaligus top hairdresser di salon ini. Gajinya konon sudah sampai 5 juta sebulan. Belum termasuk tips-tips dan bonus-bonus lain. Kata Jimmy, dia kerja dengan sistim target. Jika dia melebihi target maka dia akan dibagi keuntungan oleh Bu Nancy.
Jimmy juga pernah bilang, kalau Bu Nancy sangat takut kehilangan dia.
“Kalau gue cabut, pindah ke salon lain, 50 persen langganan salon ini bakal ikut migrasi! Ikut sama gue!” kata Jimmy suatu kali. Ada nada sombong. Tapi waktu itu saya malah kagum. Saya percaya. Jimmy memang hebat. Sampai saat dia merenggut kegadisan saya tanpa rasa bersalah.
“Ibu panggil saya?”
“Duduk,” kata Bu Nancy.
Jimmy melirik kea rah saya. Seakan dia sudah bisa menebak apa duduk persoalannya.
“Saya dengar dari Grace, kalau kalian berkelahi? Benar?”
“Ibu liat aja sendiri…nih bekasnya masih ada” diluar dugaan saya, Jimmy tidak mengelak, dia mengakui bahkan menunjukkan bekas cakaran yang masih kelihatan itu. Luka cakaran yang mulai mongering, kulitnya mulai mengelupas meninggalkan bekas kehitaman. Saya agak kaget sebenarnya.
“Maksud kamu?” Bu Nancy jadi heran. Soalnya saya memang tidak menceritakan soal perkelahian fisik kami itu.
“Ibu bilang saya sama Grace berkelahi kan? Nih… dia nyakar saya! “
Bu Nancy melirik kearah saya.
“betul itu Grace?”
Saya tak kuasa berbohong. Kepala saya mengangguk.
“Tapi bu, masalahnya bukan soal cakaran! Luka cakaran bisa hilang diobati, tapi luka yang saya alami akan saya bawa seumur hidup! Ibu ngerti kan maksud saya?”
“Luka apaan maksud loe?” tanya Jimmy enteng“Yang ngelukain gue itu justru elo! Nih bekasnya masih ada! Barang bukti! Gue ngga nyakitin loe sama sekali. Kalo gue nyakitin loe, mana bekasnya? Buktiin?” Jimmy nyerocos “Bu, ibu liat kan ukuran badan saya? Kalau saya nyakitin cewek kaya Grace, dia ngga akan selamat bu! Minimal pingsan dan gegar otak. Saya ini gede badannya bu! Yak an bu?”
Bu Nancy jadi agak bingung. Saya akhirnya nyeletuk tidak sabaran. Juga karena pengaruh emosi yang meluap-luap. Sampai-sampai saya berdiri dari kursi.
“Pembohong kamu!!!” teriak saya kalap.
“Grace! “ bu Nancy memperingatkan saya.
“Kamu memperkosa saya! Kamu merenggut kegadisan saya! Itu luka yang akan saya bawa seumur hidup! Saya cacat! Cacat seumur hidup!”
“what???” Jimmy pasang wajah innocent. Saya yakin, kalau Jimmy profesinya actor, dia bisa dapat piala citra sebagai actor terbaik. Aktingnya sangat meyakinkan. Apalagi tampangnya yang memang mirip actor kondang Ari Wibowo. Membuat dia makin kelihatan seperti bintang film. Dan peran yang cocok buat dia bukan peran baik-baik seperti ari Wibowo – melainkan peran antagonis! Bajingan! Bandit!
“Saya bisa buktikan bu!” jerit saya nekad “ saya bisa buktikan dengan pemeriksaan dokter! Kalau saya sudah tidak perawan lagi gara gara dia!”
“Oh my God. Ini cewek bener-bener sinting Bu!” Jimmy menatap saya tajam “Kebejatan loe jangan loe salahin ke gue dong! Kalo loe udah ngga perawan, kenapa gua yang disalahin? Dokter emang bisa ngebukitiin tapi apa bisa dokter ngebuktiin kalau gue yang ngerusak slaput dara loe itu!”
Bahasa Jimmy mulai kasar. Seperti malam itu.
“Jimmy, sudah! Cukup! “ Bu Nancy sendiri sampai risih mendengar kata-kata Jimmy.
“Ngga bisa bu! Maaf kalau kata-kata saya jadi kasar. Soalnya ni cewek sinting! Eh Grace, loe ngga salah milih orang? Loe nuduh gue merkosa elo? Yang bener??? Semua orang disini tau siapa gue. Sama cewek aja gue nggak doyan! “


PART 4 - KLIK DISINI

KLIK DISINI UNTUK BACA BAB SEBELUMNYA

Hotel Room

Pengakuan Sang Pramugari - part 2

PENGAKUAN SANG PRAMUGARI
BAB 2.




“Turun Grace?: Jimmy mengajak saya sebelum ia sendiri turun dari mobil.
“Nggak lama kan? Gue tunggu di mobil aja ya?”
“Nggak aman . Mending lo ikut turun deh. Bentaran kok”
Jimmy ini memang sifatnya gentlemen banget. Makanya langganan-langganan cewek di Salon banyak yang menyukai dia. Jimmy juga jadi kesayangan Bu Nancy sampai diangkat jadi manajer. Konon sejak dia bekerja di salon, salon Bu Nancy berkembang pesat. Ya mungkin karena kepandaian dia membawa diri dan menyenangkan hati orang. Terus terang saya banyak belajar dari Jimmy soal ini. Soal membawa diri, menjaga tutur kata dan bersikap di depan pelanggan. Intinya, usaha salon itu adalah industry jasa. Jadi pelayanan alias servis itu nomer satu. Dan sepertinya saya cukup berbakat. Baru empat bulan kerja sudah banyak langganan tetap.
Penghasilan saya juga sudah lumayan. Gaji pokoknya memang tidak besar, tapi tips-tips nya itu yang lumayan. Pernah saya mendapat tips 500 ribu dari si bapak yang mirip pejabat itu. Karena dia sangat berterimakasih pada saya. Walau saya bukan tukang creambath, saya tidak keberatan diminta memijat kepala si Bapak itu. Bahkan sampai ke punggungnya. Walau tidak belajar dan tidak punya sertifikat sebagai tukang pijat, kalau Cuma pijat biasa saja sih saya bisa. Sering diminta mama dan papa dulu memijati mereka. Waktu itu, tukang creambath kami semua sedang full. Si Bapak mengeluh stress bahunya sakit. Akhirnya saya menawarkan diri. Padahal tariff creambath di salon Bu Nancy hanya 250 ribu rupiah saja. Tapi si Bapak memberi saya tips 500 ribu. Hebat kan? Artinya servis saya memuaskan. Dan artinya Jimmy adalah guru yang baik.
Rumah kos Jimy kelihatan seperti rumah biasa. Nggak seperti rumah kos umumnya.
“Gue sebenarnya ngontrak bareng teman teman disini. Ada empat kamar. Kita berlima patungan” kata Jimmy menjelaskan.
“O ngontrak. Berapa perbulannya?” Saya penasaran. Saya soalnya sudah lama ingin mandiri juga. Sudah punya penghasilan, saya ingin menikmati sedikit kebebasan. Kala uterus-terusan tinggal sama orang tua, sampai kapan saya bisa jadi anak gaul? Selamanya saya akan kuper. Diantar Jimmy saja mama sudah curiga. Saya terpaksa bohong sama mama ; mengatakan kalau Jimmy itu gay. Mama percaya. Kalau tidak, mana mungkin saya bisa diantar jemput sama Jimmy.
“seorang jatuhnya jadi 500 ribuan lah”
“ngga mahal juga ya?” terbayang, dengan gaji saja sebenarnya cukup uang saya untuk ngontrak. Tapi itu artinya keperluan lain bisa tidak terpenuhi. Baru terbayang sekarang bagaimana sulitnya orang tua kita mengatur keuangan untuk mencukupi semua kebutuhan dengan angka yang pas-pasan. Saat saya sudah cari uang sendiri dan berusaha mandiri, sering saya jadi kagum sama papa dan mama. Saya tau gaji papa saya itu tidak sampai 10 juta sebulan. Bagaimana cara mama mengatur penghasilan itu agar cukup untuk bayar listrik, bayar PAM, belanja makan, bayar sekolah anak-anak? Rasanya kalau saya disuruh jadi mama, saya akan angkat tangan. Nyerah. Sedangkan, dengan gaji satu juta saja, saya belum sanggup membiayai diri sendiri. Padahal hanya diri saya sendiri , tidak perlu berbagi dengan orang lain! Ibaratnya kalau mau berhitung gaji papa yang, anggap saja 7 juta, itu dibagi untuk 7 kepala dirumah. Mama, papa dan 5 anak. Satu orang jatahnya 1 juta. Sama dengan pendapatan saya sekarang, 1 juta. Tapi buat saya 1 juta itu nggak cukup. Ngga memungkinkan untuk mandiri.
“Kenapa? Kamu pengen ngontrak?”
Jimmy membuka pintu kamarnya.
Saya ikut melangkah masuk padahal belum diajak. Tapi saya memang sudah tertarik duluan, merasa penasaran ingin lihat seperti apa kamar anak kos. Kamarnya tidak besar tapi juga tidak kecil Kira-kira dua kali tiga meterlah. Tapi enaknya, Jimmy punya kamar mandi sendiri. Tidak seperti kebanyakan rumah kos lain yang kamar mandinya harus berbagi antar penghuni. Di rumah sayapun saya harus berbagi kamar mandi. Bahkan harus berbagi kamar dengan adik bungsu saya. Mama dan papa saja tidak punya kamar mandi sendiri. Dari empat kamar yang ada dirumah kami, hanya ada satu kamar mandi. Kamar mandi itu juga merangkap kamar kecil buat tamu. Rumah kami tidak besar. Tergolong tipe 110. Artinya luas tanahnya 110 meter persegi. Bangunannya bertingkat dua. Tidak ada sisa lahan untuk halaman. Di depan hanya ada teras dan lahan buat parkir mobil. Bukan garasi hanya car port. Tapi saking kecilnya car port itu. Mobil Ki**** dinas papapun tidak muat. Terpaksa parkir dijalanan di depan pagar rumah.
Jimmy lumayan punya selera dalam mendekorasi kamarnya. Ranjangnya saja keren. Saya pikir, kamar cowok itu pasti berantakan dan seadanya. Seperti yang suka saya lihat di film – film atau sinetron. Kamar kos cowok biasanya malah tidak ada tempat tidur, hanya kasur busa atau spring bed digelar dilantai dibungkus sprei. Tapi Jimmy punya tempat tidur kayu yang rada tradisional. Bahkan pakai kelambu segala! Merah warna kelambunya.
“Keren” puji saya spontan.
“Banyak nyamuk soalnya jadi pake kelambu “ kata Jimmy “ranjangnya bukan punya aku. Udah dapat dari yang punya kontrakan”
“enak dong . Ngga usah beli perabotan?”
“gue hanya beli lemari pakaian aja. Tambahan. Soalnya lemari pakaian yang ada nggak cukup. Barang gue banyak! Nih” Jimmy membuka lemarinya. Ck.ck.ck. Koleksi pakaian saya sebagai cewek saja kalah! Dan isi lemari Jimmy juga sangat rapih untuk ukuran cowok. Saya semakin yakin kalau Jimmy metrosexual. Atau bisa jadi malah gay seperti kata Yati kapster. Cowok normal yang masih single mana ada yang serapih ini? Lagipula kalau Jimmy cowok normal, mana mungkin juga dia masih single?
Tampang keren. Body gagah. Duit punya. Kerjaan tetap sudah ada. Apalagi yang menghalangi dia untuk pacaran? Bahkan menikah. Umur Jimmy kira-kira sudah 30 an menurut perkiraan saya sih. Saya tidak pernah menanyakan usianya secara langsung. Jadi saya merasa makin nyaman saja dengan pikiran dan keyakinan itu. Saya merasa aman. Saya duduk diranjang Jimmy itu. Spreinya warna putih mirip kamar hotel.
Jimmy ikut duduk disebelah saya.
“Cobain deh” Jimmy menyodorkan bantal.
“bantal kok dicobain, emangnya makanan?” saya ketawa.
“empuk banget. Bahannya latex”
“Latex?”
“Iya. Baru pernah denger kan? Emang ini barang baru. Lagi ngetrend lho. Katanya paling bagus buat kesehatan. Bisa meningkatkan kualitas tidur! Mahal lagi harganya! Cobain” jimmy memaksa.
Saya lalu rebahan menikmati bantal latex itu. Saya belum pernah dengar sama sekali. Latex setahu saya semacam karet – ingat pelajaran sekolah. Karet kok bisa jadi bantal? Bukannya karet itu bahan untuk ban mobil? Atau sarung tangan dokter kalau mau operasi pasien di rumah sakit? Atau….kondom?
“Enak? Beda kan rasanya?”
Wajah Jimmy tahu-tahu sudah dekat sekali sama wajah saya. Tapi saya masih belum merasakan gelagat apa-apa. Ya namanya juga teman. Saya sama sekali tidak curiga apalagi takut.
“Lumayan.. Tapi belum terasa sih enaknya”
“Makanya, nginep disini sekali-sekali”
“Hah?” kaget juga saya “Nginep?”
“Iya. Emang kenapa?”
Saya diam. Malu. Gengsi mau mengatakan yang sebenarnya. Mana mungkin saya dikasih ijin bermalam dirumah orang? Apalagi cowok. Walaupun mama percaya Jimmy itu gay, tapi Jimmy kan nge kos. Tidak tinggal sama orangtuanya. Lagipula tetap saja akan aneh ditelinga mama kalau mendengar saya menginap dirumah teman “gay”. Sejujurnya, mama itu termasuk orang yang anti sama gay. Di mata mama gay itu menjijikan atau semacam penyakit , pilihan sexual yang dikutuk oleh Tuhan dan melanggar perintah agama. Mama memang pemeluk agaka Kristen yang cukup kuat. Kami sekeliarga hampir tidak pernah absen ke gereja setiap minggu.
Waktu kecil, saya suka malas ke gereja. Soalnya, dari Senin sampai Jumat, saya sudah harus bangun pagi. Akhir pekan, maunya kan santai. Bangun siang seenaknya. Tapi yang ada kami tetap harus bangun pagi karena harus ke gereja. Kebaktian pertama itu jam 9.30. Berarti harus berangkat dari rumah sekitar jam 8.30 karena jarak dari rumah kami ke gereja cukup jauh. Rumah kami di bilangan Jakarta Selatan dan gerejanya di Jakarta Pusat. Itulah sebabnya saya menganggap mama cukup fanatic. Buktinya, walau pindah lokasi, mama tetap bersikeras mengikuti jemaat gereja yang dulu. Gereja dimana mama dibesarkan. Mama sudah merasa nyaman disitu sepertinya.
Dan mengenai gay ini, memang bagi sebagian besar agama masih dianggap haram. Bahkan di beberapa Negara katanya juga masih illegal. Di lingkungan masyarakat yang sudah moderen deperti Jakarta inipun masih banyak orang yang mencibir melihat kaum gay. Apalagi mama yang merupakan generasi tahun 60 an. Pasti pemikiran dan pakem pakem hidupnya lebih kolot lagi. Lebih jadul kata bahasa gaulnya. Ditambah lagi mama juga penganut agama yang cukup fanatic.
“Kenapa Grace?”
“Loe kayak nggak tahu nyokap gue aja Jim” saya mengeluh.
“Nyokap loe kenapa? Kayaknya nyokap suka sama gue tuh” Jimmy keg e-eran
“Itu kan menurut loe”
“Maksud loe? Nyokap loe Cuma pura-pura baik aja sama gue?”
“Ya…gimana ya” saya sulit menjelaskannya. Takut nyinggung perasaan Jimmy. Juga malas karena panjang ceritanya. Lagipula, saya masih sayang sama mama dan bisa memahami perasaan dan jalan pikiran mama juga sih. Saya tidak menyalahkan mama. Jadinya serba salah dan nggak tau harus ngomong apa.
Jimmy semakin mendekatkan kepalanya ke wajah saya.
“Apa sih yang kurang dari gue? Apa coba?”
“maksud loe?”
“Loe suka nggak sama gue?”
“Suka. Loe teman yang baik. Yang terbaik malah. Sebelumnya gue nggak punya teman dekat Jim.” Jawab saya sejujurnya.
“Sumpah?”
“Swear”
“terus, kenapa nyokap loe nggak suka sama gue?”
“karena….” Saya masih ragu
“terus terang aja sama gue.” Jimmy mendesak
“janji ya, jangan marah? “ Saya tetap nggak tega mengeluarkan kata-kata “gay’ itu dari mulut saya.
“Kayak ngga kenal gue aja. Gue bukan tipe yang gampang tersinggung. Gue cuek kok. Terserah aja orang mau nilai gue apa.”
“Oke. Tapi, loe harus tau, ini pendapat nyokap gue lho ya. Bukan pendapat gue. Deal?”
“rese lo ah” Jimmy mulai nggak sabaran.
“Jim, nyokap itu termasuk orang yang anti sama gay”
“Hah???” Jimmy melotot. Matanya seperti mau copot. Dan karena wajahnya dekat sekali sama wajah saya, saya akhirnya jadi ikut kaget dan ikut melotot juga. Close up sekali posisi mukanya dengan muka saya.
“Iya. Maklum deh namanya juga orang tua…jadul. Kolot. “
“Gay?”
Saya mulai deg degan. Takut banget membuat Jimmy tersinggung.
“Gue gay???”
“Sorry Jim. Loe kan tadi udah janji nggak akan marah?”
“menurut loe, gue gay?”
Giliran saya yang kaget sekarang. Kenapa Jimmy bertanya seperti itu? Seolah olah….
“Jawab Grace. Loe selama ini nyangka gue gay juga?”
“Emangnya…elo…” kalimat saya jadi terbata-bata. Sekarang kebingungan mulai melanda. Keraguan mulai datang. Melihat ekspresi wajah Jimmy yang seperti kaget dan marah itu. Jangan-jangan, Jimmy bukan gay? Ya Tuhan. Kalau dia bukan gay, berarti saya sudah menuduh dia dong? Ya ampun. Nggak terbayang bagaimana perasaan Jimmy saat ini. Bagaimana perasaan seorang pria sejati yang dituduh gay, coba?
“Akan gue buktikan…”

BERSAMBUNG KE BAB 3 KLIK DISINI
INGIN BACA PART 1 KLIK DISINI

Hotel Room