Stay in Touch with Me

Friday, December 16, 2011

Pengakuan Sang Pramugari - part 1

Pengakuan Sang Pramugari
Bab 1.





Sebenarnya waktu kecil saya tidak pernah kepengen jadi pramugari. Sama sekali tidak. Pengennya malah jadi seketaris. Percaya atau nggak, saya juga takut terbang. Jangankan terbang, naik mobil saja waktu kecil suka mabuk darat. Mama selalu menyiapkan obat anti mabuk perjalanan bermerek An**** . Karena kebiasaan saya yang suka mabuk saat perjalanan itulah saya dimanja. Diantara lima sudara saya yang semuanya perempuan, saya satu-satunya yang tidak perah naik kendaraan umum. Kakak dan adik – adik saya yang lain semua naik kendaraan umum untuk pergi dan pulang sekolah. Sementara saya selalu diantar dengan mobil dinas Papa.

Keluarga saya keluarga sedang-sedang saja. Tidak kaya, kecukupan, tidak juga miskin. Tapi kadang-kadang saya merasa pas-pasan. Maksudnya, saya sering dengar Papa dan Mama membicarakan soal tunggakan listrik dan uang sekolah juga sesekali. Maklumlah, namanya juga pegawai negri. Mamah juga tidak kerja, murni ibu rumah tangga. Anakpun banyak, tidak setia mengikuti ke;uarga berencana. Tapi kalau orang tua saya ikut KB, saya tidak bakalan lahir karena saya anak ke tiga sedangkan KB berslogan dua anak cukup.

Kadang kalau sedang dalam suasana pas-pasan saya suka berkhayal. Seandainya orang tua saya ikut KB, kira-kira saya ini akan dilahirkan sebagai anak siapakah? Anak oraang yang lebih berada atau jangan-jangan malah jadi anak keluarga yang lebih miskin? Hi,.. kalau sudah mikir begitu, saya jadi malu sendiri dan berhenti berandai-andai. Pepatah bilang, kita kan harus mensyukuri apa yang kita punya. Kalau keluarga pas-pasan, maka ditangan saya sendirilah masa depan saya. Dan saya bertekad untuk tidak hidup pas-pasan seperti Papa dan Mama.

Jangan dulu mengira saya cewek matre. Mengharap jadi orang berduit kan tidak haram? Namanya juga cita-cita. Semua orang juga selalu mengharapkan kehidupan yang lebih baik bukan? Orang yang sudah kaya raya sekalipun masih terus mengembangkan usahanya. Menambah jumlah hartanya. Bekerja agar kekayaannya berlipat ganda. Apalagi orang yang kecilnya sedikit susah seperti saya. Wajar kalau saya menginginkan kehidupan yang lebih baik dari kehidupan masa kecil saya. Kalau kecil naik mobil dinas Papa yang lumayan butut dan tanpa air conditioner, saya rasa wajar kalau saya berharap punya mobil keluaran terbaru yang mesinnya tokcer jarang mohok dan ac nya dingin supaya rambut saya tidak kempes terus-menerus karena keringat.

Mulai masa SMA, sejak saya mulai pacar-pacaran, tampa saya sadari saya sudah mulai menyeleksi pacar ataupun calon pacar dengan skala ekonomi. Tapi saya sadari hal ini belakangan. Saat melakukannya semua seolah terjadi secara alami. Mungkin karena saya melihat keadaan Mama. Kalau saya akhirnya harus jadi ibu rumah tangga seperti mama, saya ingin suami yang penghasilannya lebih baik daripada papa. Kalau bisa suami saya pengusaha swasta, jangan pegawai negri deh. Bukan saya tidak menghargai Papa, tapi boleh kan saya mengharapkan pekerjaan yang lebih baik untuk pendamping saya? Lagipula, kalau saja ada kesempatan, Papa juga mungkin nggak akan memilih jadi pegawai negri.

Papa sebetulnya pernah buka usaha sampingan. Sambil mempertahankan posisinya yang nggak naik naik itu di sebuah departemen, Papa sempat buka usaha bengkel dengan seorang sahabatnya. Namanya Om Awi. Om Awi ini keturunan tionghoa. Umumnya, keturunan tionghoa memang pandai berdagang. Mungkin karena sudah turun temurun? Demikian juga halnya Om Awi. Konon sih bengkel Om Awi ini sudah banyak bertebaran mulai dari Sabang sampai Merauke. Jaman itu belum jaman franchise, jadi semua bengkel itu adalah milik Om Awi sendiri atau bersama partner lain. Tapi om Awi lah yang mengawasi semua operasional bengkel bengkel itu.

Saya ingat, mama sampai meminjam uang dari Opa untuk memodali usaha Papa ini. Meski berat hati, opa akhirnya memberikan pinjaman. Keluarga pihak mama memang kurang suka sama papa. Pasalnya, beda suku. Mama keturunan tiong hoa dan papa asli pribumi (dulu istilahnya begitu – saya tidak bermaksud membahas perbedaan suku disini – hanya menceritakan situasi di kleuraga saya) Dengan kata lain, saya ini berdarah tinghoa dan Jawa dari pihak Papa.

Singkat cerita, usaha papa dan Om Awi gatot. Gagal total. Modal pinjaman dari opa itu ludes. Hubungann dengan keluarga mama semakin memburuk karena papa tidak mampu bayar hutangnya itu. Meski sudah ngirit-ngirit dan mencoba mencicil demi harga diri, tetap saja seret dan tidak juga kebayar-bayar hutang itu. Saya ingat sebuah kejadian, waktu papa dan mama sudah berhasil mengumpulkan sejumlah uang untuk bayar hutang ke opa, tiba-tiba saja saya sakit keras. Tipus. Harus dirawat dirumah sakit. Uang tabungan buat bayar hutang itu akhirnya ludes lagi karena dipakai membiayai pengobatan saya. Waktu itu umur saya baru 12 tahunan dan saya merasa menyesal dan bersalah sekali.

Sejak kejadian itulah saya baru benar-benar merasa “miskin”. Dulu sih hanya merasa pas-pasan. Tapi kata-kata hinaan dari Opa pada papa, membuat saya merasa “down” Merasa miskin – padalah sih nggak miskin-miskin amat, buktinya buat makan, ongkos sekolah dan lain-lain masih cukup. Hinaan itu membuat saya trauma. Seakan-akan, kalau kita tidak punya uang maka kita akan jadi bahan hinaan orang. Seakan – akan miskin itu adalah sebuah kejahatan dan sesuatu yang memalukan. Mungkin trauma itulah yang membuat saya semakin gigih mempertahankan prinsip saya in. Saya harus jadi orang kaya. Sekaya apa? Entahlah. Yang jelas lebih mampu daripada keluarga saya ini. Supaya saya tidak seenaknya dihina. Supaya saya tidak perlu ngutang pinjam uang dari orang lain.

Kata orang, saya ini lumayan cantik. Diantara 5 bersaudara, jujur, saya sendiri juga merasa kalau saya yang tercantik. Kombinasi darah tionghoa dan Jawa paling sempurna dalam diri saya kebanding kakak-kakak dan adik-adik saya yang lain. Mungkin juga karena saya yang paling centil diantara saudara saudara perempuan saya. Kata mama, saya yang paling feminin. Dari kecil saya suka merawat diri. Kalau mama membersihkan wajah dan pakai krim-krim untuk kulit, saya selalu ikut-ikutan. Bahkan saat kakak saya belum pake make up, saya sudah berani pakai lipstick mama. Pendek kata saya memang suka merias diri. Paling hoby ngaca di depan cermin. Bahasa sekarangnya mungkin : narsis.

Sebagai bukti bahwa saya bukan keg e-eran sendiri, di usia 17 saya berhasil jadi finalis salah satu lomba cover majalah remaha di Jakarta. Walau tidak keluar sebagai pemenang, prestasi itu sudah lumayan. Bayangin, diantara ribuan peserta dari 27 propinsi Indonesia ini, saya termasuk dalam 10 yang tercantik. Terpilih! Rasa percaya diri sayapun meningkat. Dan sejak itu saya yakin kalau kecantikan fisik merupakan asset terhebat saya. Soalnya, angka prestasi sekolah saya biasa0biasa saja. Nggak ada yang menonjol dan bisa dibanggakan. Prestasi olah raga juga nggak ada yang menonjol. Musik apalagi. Saya lebih focus baca majalan, ngeliatin model model dihalaman majalah atau wajah wajah artis di televisi – daripada focus sama pelajaran. Jujur saja, saya juga dari remaja tidak mengharapkan sekolah tinggi-tinggi. Saya tau diri dengan kemampuan otak yang pas –pasan ini, buat apa saya menghabiskan uang orang tua?

Lebih baik uang jatah sekolah saya diberikan sama adik bungsu saya. Dia memang paling menonjol prestasi akademiknya. Ditambah lagi, waktu kakak sulung saya lulus jadi sarjana ekonomi, saya kecewa melihat gajinya juga pas-pasan saja. Nggak jauh beda sama tamatan SMA atau SMEA. Sepertinya yang jadi ukuran gaji itu bukan lagi ijasah atau tingginya pendidikan seseorang, tapi justru lamanya pengalaman kerja seseorang deh . Itu menurut saya ya. Jadi semangat sekolah saya makin kendor saja dibuatnya. Ngapain buang-buang waktu kuliah sampai hampir 6 tahun kalau akhirnya gajinya beda tipis sama anak lulusan SMA. Nggak sebanding dengan biaya kuliah dan waktu yang dihabiskan buat kuliah , menurut saya.

Apalagi otak saya pas-pasan. Minat juga nggak ada sama yang namanya pelajaran. Yang ada stress aja kalau harus ngerjain tugas. Kalau musim ujian apalagi. Saya bisa sampai mules sakit perut bahkan demam karena stress menghadapi ujian. Pokonya saya bukan manusia text book deh. Katanya, tiap orang punya bakat yang berbeda-beda bukan? Dan setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Teori orang sukses yang saya pernah baca mengatakan begini : kenali potensi terbesar dalam dirimu dan focus lah pada potensi itu! Lupa say abaca dimana teori itu. Atau mungkin saya nonton di televisi? Atau di film? Entahlah. Pokoknya kata-kata itu nancep banget dibenak saya. Dan asset potensi terbesar yang saya punya adalah :penampilan fisik saya.

Waktu remaja saya termasuk agak chubby. Gendut tidak, tapi langsing juga tidak. Jaman itu saya sempat curi-curi uang belanja mama buat ikutan senam. Senam di sanggar dekat rumah, bukan ikut membership seperti jaman sekarang ini. Uang belanja sebulan mama saja nggak bakalan cukup buat bayar membership gym atau fitness club. Seingat saya waktu itu sekali datang iurannya 15 ribu rupiah. Cukup murah. Tapi walau murah, tetep saja saya harus mencuri uang mama. Mencuri maksudnya begini : missal disuruh beli keperluan dapur ke warung, saya nyatut harga. Mie instan yang harganya seribu perak, saya bilang seribu lima ratus. Jadi bukan nyuri dari dompet mama kayak maling. Mudah-mudahan dosanya nggak sama ya nyatut sama maling. Tapi mama lama-lama juga tahu kok. Karena mama dengar dari yang punya sanggar senam, anaknya, Grace (saya) rajin ikutan senam disanggarnya. Si pemilik sanggar mengajak mama ikutan. Gara-gara itu mama jadi tau dan mengusut darimana saya punya uang untuk bayar iuran sanggar senam?

Hasilnya lumayan kelihatan. Memasuki usia 19 saya sudah langsing. Body saya oke lah nggak kalah sama body artis-artis papan atas. Saya suka mencari foto-foto artis mengenakan pakaian seksi, bahkan (maaf) kalau bisa saya cari foto telanjang mereka! Bukan apa-apa, bukannya saya lesbian menyukai sesame jenis, tapi hanya karena obsesi saya saja. Saya ngga mau kalah. Minimal saya harus punya body sama kayak mereka. Kalau bisa malah lebih sexy dari mereka. Bukankah kecantikan fisik itu asset saya? Potensi yang harus saya fokuskan?

Waktu baru jadi finalis pemilihan cover majalah itu, ada beberapa tawaran datang pada saya. Macam-macam. Mulai dari tawaran ikut modeling agency, jalan di cat walk (badan saya lumayan jangkung) foto iklan bahkan tawaran acting juga ada. Saya pernah main jadi figuran di beberapa film layar lebar. Sinetron juga. Tapi malaslah. Cape. Honornya juga nggak seberapa. Mulanya sih saya coba jabanin. Jadi figuran atau bahasa kerennya “extra” itu hariannya, awalnya, saya Cuma dikasih 50 ribu rupiah. Believe it or not. Kerjanya dari calling pagi jam 8 bisa sampai malam jam 12 disuruh standby. Di shooting (take) paling Cuma 10 menit. Sisanya Cuma duduk duduk, nunggu, bengong, nggak jelas. Buat ongkos sama jajan saja 50 ribu itu nggak cukup.

Tapi, kata agent yang merekrut saya, saya harus sabar. Jangan dulu hitung pendapatannya, tapi kesempatannya yang harus saya ambil. Katanya, banyak artis artis top juga awalnya Cuma figuran. Karena sering muncul, akhirnya mata sutradara atau produse melirik juga pada si figuran ini. Kemudian mulai deh dikasih peran yang lebih baik. Dan sukurnya hal itu terjadi juga pada saya. Saya pikir, ini awal karir saya sebagai artis! Dari figuran mondar-mandir, pangkat saya naik menjadi figuran dengan ‘dialog”. Bayarannya lumayan, 200 ribuan sehari. Jam kerjanya juga sama. Waktu itu saya masih SMA. Karena ngarep jadi artis top, saya jadi sering bolos. Dan ujung-ujungnya ketahuan juga sama mama. Dan disuruh berhenti main film. Bahkan mama menyuruh saya berhenti mimpi jadi artis top.

Jujur, waktu itu saya sakit hati sekali sama mama. Soalnya kata-kata mama itu loh yang terasa menghina sekali. Kata mama gini:

“Kamu ngaca dong Grace! Yang lebih cantik dari kamu aja banyak…. Masa kamu yang nanggung gini ngarep jadi artis? Emangnya produser itu buta? Paling-paling kamu dipacarin, dimanfaatin . Nggak bakal kamu jadi artis! Bakat acting aja kamu nggak punya! “

Sedih juga sih mendengarnya. Apa prestasi saya di lomba cover majalah itu nggak dihitung sama mama? Usaha saya untuk mempercantik diri juga ngga dianggap? Apalagi waktu di bilang nggak punya bakat acting. Wah saya bukan Cuma tersinggung. Saya merasa berbakat! Kesempatannya saja yang belum ada untuk menunjukkan bakat terpendam itu! Saya sering latihan sendiri. Nyany-nyanyi di depan kaca – lips sing- ngikutin lagu dari radio. Dan penampilan saya cukup keren. Minimal saya bisa niru persis suara dan ekspresi penyanyinya mirip sama yang saya lihat di te;evisi. Kakak dan adik saya juga setuju. Cuma mama saja yang komentarnya begitu. Mungkin karena mama kuatir, anak gadisnya (yang tercantik) bakal dilahap sama buaya-buaya darat. Bukankah memang dunia film gossipnya memang seperti itu. Bahkan saya pernah lihat sendiri, temen figuran saya berhenti jadi figuran karena berhasil menarik hati cameramen. Padahal cameramen itu sudah tua dan sudah punya istri (saya lihat cincin kawinnya selalu dipakai)

Tapi jujur nih, apa salah kalau kita melakukan itu? Maksud saya, kalau memang itu cara yang biasa dilakukan menuju popularitas? Kalau kita ngga mau melakukannya, ya mana bisa kita sukses seperti meraka yang rela melakukannya? Bukankah ada pepatah bilang no pain no gain? Ngga ada hasil yang didapat tanpa pengorbanan? Ya maksud saya bukan jual diri atau jual keperawanan, tapi kalau sekedar merayu, menemani makan malam dan bermanis-manis saja nggak salah kan? Toh itu bukan dosa? Asal jangan sampai tergelincir lebih jauh saja. Saya yakin saya bisa jaga diri saya. Tapi mama tidak yakin, akhirnya karir saya yang baru mulai di dunia film itupun mentok. Stop sampai di posisi figuran 250 ribu sehari saja.

Meski sempat terjadi konfrontasi, saya tetap nekad melakukan cita cita saya. Saya menolak kuliah! Titik. Mama dan papa sampai stress menghadapi kekerasan hati saya. Akhirnya, mereka nyerah. Daripada anaknya nganggur, saya diijinkan ikut kursus kecantikan. Ini bukan karena saya bercita-cita jadi kapster atau make up artis . Amit-amit. Saya ikut sekolah kecantikan untuk kepentingan diri sendiri. Supaya saya makin mahir mempercantik diri. Kalau saya bisa dandan sendiri kan saya bisa ngirit. Ngga perlu selalu ngabisin uang ke salon buat rambut dan make up atau perawatan lain? Setelah beberapa bulan kursus, saya dapat kesempatan magang di sebuah salon. Disinilah awal babak baru kehidupan saya dimulai. Di salon milik Bu Nancy. Seorang wanita cantik setengah baya keturunan Manado.

Bu Nancy ini dulunya seorang PRAMUGARI. Dia beruntung, ketemu jodohnya saat menjalankan tugas. Suaminya dulunya adalah mantan penumpangnya. Karena sering terbang di rute yang sama, lama-lama dari mata turun ke hati. Suami bu Nancy adalah pemilik perusahan export impor yang rutin melakukan penerbangan rute Jakarta – Shanghai. Rute yang rutin pula dilakukan Bu Nancy saat dinasnya dulu. Dasar sudah jodoh, akhirnya hubungan jadi serius dan Bu Nancy berhenti jadi pramugari. Buat apalagi kerja kalau suami bisa mencukup segalanya? Bahkan lebih dari cukup! Penghasilan Bu Nancy sebagai nyonya, malah lebih besar daripada penghasilannya saat kerja jadi pramugari. Buktinya saking dia tidak tau apa yang harus dilakukan dengan uangnya yang numpuk itu, Bu Naancy berhasil jadi pengusaha. Nggak kalah sukses sama suaminya.

Usaha salon Bu Nancy cukup maju. Salonnya besar meski belum ada cabang. Tapi Bu nancy terus harus menambah karyawan untuk salonnya. Artinya, usaha itu berkembang kan? Saya salah satu yang terpilih untuk magang di sana. Waktu pertama kali datang membawa surat lamaran dan penunjukkan dari tempat kursus, saya sempat deg degan. Maklum, belum pernah kerja kan? Ini pengalaman kerja saya yang pertama. Umur saya baru 2o tahunan pula. Masih jelas dalam ingatan saya, reaksi Bu Nancy waktu pertama kali berkenalan dengan saya.

Bu Nancy menatap saya dari ujung rambut sampai ujung kaki berulang kali. Lama sekali rasanya. Saya sampai grogi sendiri. Seolah ada yang salah dalam diri saya , sampai dipelototoin seperti itu. Padahal saya sudah mengulurkan tangan mau memperkenalkan diri.

“Nama saya Grace , Bu.”
“Grace? Orang manado ya?” tanya Bu Nancy. Mungkin karena dia orang Manado dan memang wajah saya bisa dibilang mirip dengan wajah kebanyakan orang Manado. Pasti karena saya punya darah tionghoa dari pihak mama. Kulit saya putih bersih. Nama saya juga mirip nama kebanyakan gadis Manado. Ke Barat-baratan.

“Bukan Bu. Saya bukan orang manado”
“Ah masa sih?”
“Saya peramakan cina Jawa. Grace Suryono. “
“O. Cina Jawa. Pantesan… cantik.”

Glek. Lega rasanya waktu dibilang cantik. Tadinya saya sudah kuatir waktu di pelototin. Saya pikir Bu Nancy kurang berkenan sama saya. Ternyata sebaliknya.

“Jim! Jimmy!!!” Bu nancu teriak memanggil seseorang. Tak lama orang yang namanya Jimmy itu muncul. Orangnya ganteng. Laki-laki tentunya. Badannya kekar meski tidak terlalu tinggi, tapi gagah. Kayaknya dia rajin olah raga. Otot-ototnya menonjol. Wajahnya juga ganteng. Mirip dengan actor Ari Wibowo sih kalau menurut penilaian mata saya. Saya fans berat Ari Wibowo soalnya. Kelihatannya Jimmy ini juga ada darah indo (campuran asing) nya deh.

Ternyata dugaan saya salah. Jimmy sama sekali tidak punya darah bule dalam dirinya. Mungkin dari nenek kakek buyutnya sih ada. Kalau tidak darimana dong matanya bisa kecoklatan begitu ? Rambutnya juga tidak hitam seperti orang asia. Agak kemerahan.

“Oh, mata saya ini pakai contact lens!” kata Jimmy kemudian. Setelah kami kenalan dan cukup akrab. Jimmy manajer di salon Bu Nancy. Masih famiy jauh sama Bu Nancy rupanya. “dan rambut saya ini, aduh…kamu gimana sih masa orang salon nggak tahu kalau ini dicat merah?” Jimmy tertawa dengan keluguan saya.

Ya walaupun saya sudah ikut kursus kecantikan, pengalaman saya kan masih nol besar. Jimmy lah yang banyak mengajari saya. Tentang segalanya. Termasuk cara-cara menghadapi tamu-tamu salon tertentu. Misalnya, ada seorang ibu konglomerat yang cerewet. Kita harus tau kebiasaan-kebiasaannya supaya dia tidak bawel sama kita. Juga ada lagi langganan yang cukup aneh. Bapak-bapak tapi rajin ke salon. Mulai dari facial sampai manicure pedicure. Kalau datang suka pake safari seperti pejabat. Tapi kata jimmy si bapak ini sebenarnya “gay”. Jadi keberadaannya di salon ini harus dirahasiakan. Dan dia paling tidak suka kalau diajak bicara soal keluarganya. Pokoknya banyak deh ternyata trik-trik untuk menyenangkan hati pelanggan. Banyak yang saya pelajari dari Jimmy, dari pengalaman kerja di salon yang sebenarnya tidak lama ini. Pelajaran yang ternyata harus saya bayar cukup mahal. Karena suatu malam, Jimmy yang saya anggap sahabat dekat itu mendadak menagih bayaran pada saya. Bukan dalam bentuk uang, tapi…. Harga diri saya sebagai seorang gadis…..

BERSAMBUNG ke BAB 2


Hotel Room

6 comments:

  1. terharu baca ceritanya.... kisah nyata selalu bkin penasarn untuk di ikuti kisahnya

    ReplyDelete
  2. gak sabar nunggu lanjutannya.... deg deg an nunggu lanjutannya....

    ReplyDelete
  3. kereeennn bener-benr di tunggu part 2nya bikin penasaran tentang kelanjutan ceritanya

    ReplyDelete