Stay in Touch with Me

Saturday, December 17, 2011

Pengakuan Sang Pramugari - Part 5

PENGAKUAN SANG PRAMUGARI
PART 5



BAB 5

Saya sangat sayang sama papa dan mama , orang tua saya. Wajar kalau anak suka ngelawan dan ribut sama orang tua. Namanya juga beda generasi, pasti banyak perbedaan antara anak dan orang tua. Tapi semua itu tidak melunturkan cinta dan hormat saya pada orang-orang yang telah melahirkan dan membesarkan saya. Mama biarpun memang galak, tapi jelas sudah menurunkan sifat disiplin pada saya. Termasuk sifat keras kepala saya, pasti juga saya dapat dari mama. Sementara dari papa, saya mendapat ketenangan. Karena papa pendiam orangnya. Kalau hati lagi galau, duduk di sebelah papa saja rasanya sudah adem. Mungin aura postif itu memang menular. Tidak perlu papa menghibur, cukup bersebelahan saja menular rasa adem dari hati papa ke hati saya yang sedang galau.
Seperti malam itu, sehabis bertengkar dengan mama, saya duduk sebelahan sama papa diteras. Mama masih ngamuk-ngamuk. Kedengaran dari luar piring dan gelas yang dibanting-banting. Bukan dibanting sampai pecah, tapi dihentakkan dengan keras kemeja. Luapan emosi mama disalurkan saat menata meja makan.
“Kamu yakin sama keinginan kamu itu?” tanya papa.
“Yakin banget. Malahan itu satu satunya yang saya mau pa,”
Papa menghela nafas.
“Papa dukung dong. Bujukin mama. Mama ngga setuju.”
“Hidup kamu kan punya kamu sendiri. Apapun itu, jalankan, jangan dengar kata orang lain”
“maksudnya, saya musti ngelawan mama?”
“Ya dilarangpun kalau kamu mau pasti akan tetap kamu lakukan kan? Anak yang lebih kecil dari kamu saja bisa, apalagi kamu. Kamu sudah dewasa. Larangan itu bukan halangan.”
Saya agak tidak paham maksud papa.
“Jadi, papa setuju? Papa nggak ngelarang kan?”
“Papa nggak bisa melarang. Tapi papa juga nggak bisa bilang kalau papa setuju. Papa hanya bisa bilang, terserah kamu. Kamu sudah dewasa, bisa berpikir sendiri. Membuat keputusan sendiri. Dan juga harus bertanggung jawab sama keputusan kamu itu”
Tanggung jawab. Kata itu sudah sering saya dengar. Tapi kali ini maknanya baru terasa. Seakan kata “tanggung jawab’ itu merupakan sesuatu yang ‘berat’. Yang serius. Bukan main-main. Bukan sekedar kata-kata. Percakapan singkat dengan papa malam itu , saya rekam dalam hati dan selalu saya ingat seumur hidup saya.
Tanggung jawab – kata yang mudah diucapkan tapi begitu sulit untuk dijalankan. Seiring dengan bergulirnya waktu, empat bulan masa pendidikan berlalu dengan sangat cepat. Saya yang secara akademik tidak punya ptestasi yang bisa dibanggakan, ternyata cukup jenius saat menyelesaikan pendidikan pramugari! Mungkin karena tekad saya benar-benar bulat untuk menjadi pramugari. Teori yang pernah saya dengar dulu itu ternyata benar. Kalau kita enjoy dan focus pada satu hal yang benar benar kita inginkan, hasilnya pasti akan lebih baik.
Saya terpaksa menentang larangan mama. Dengan sebait restu dari papa dan sebuah pesan berjudul “tanggung jawab”, saya beranikan hati saya untuk meneruskan cita-cita saya. Setiap malam, saya selalu berdoa, mohon agar mama memaafkan saya dan mengikhlaskan saya. Karena hal ini juga, saya memutuskan untuk keluar dari rumah. Rasanya malu, sudah menentang masih tinggal numpang di atap yang sama. Ini bukan Cuma soal gengsi, tapi jujur, saya merasa nggak enak kalau harus menentang secara terang-terangan. Maksudnya, kalau mama melihat saya tiap hari pergi-pulang dari pendidikan pramugari. Bukankah itu akan menyakiti hati mama tiap hari? Jadi lebih baik saya pergi.
Karena uang pas-pasan, saya Cuma bisa indekos di sebuah rumah kos yang tak jauh dari lokasi pendidikan. Maksudnya supaya ngirit ongkos transport. Saya jalan kaki hampir tiap hari. Kalau lagi beruntung, saya nebeng sama Tanti, teman seangkatan di pendidikan. Tanti ini sebenarnya tidak begitu cantik. Biasa saja. Tapi menurut orang asing mungkin dia termasuk “eksotis”. Wajahnya sekilas mirip penyanyi Anggun C sasmi. Cuma bedanya, Tanti masih polos belum di poles secara benar. Kami menjadi dekat karena saya suka membantu Tanti berdandan. Hasilnya lumayan, Tanti jadi lebih ‘kinclong”. Karena saya kan jelek-jelek gini pernah kursus kecantikan. Jadi saya paham cara menonjolkan kelebihan di wajah dan menutupi kekurangan yang ada.
Rambut Tanti yang tadinya keriting kriwil juga saya ubah total dengan catok. Jadinya lurus berkilau dan keren. Apalagi rambut Tanti sebenarnya cukup tebal. Bintang iklan shampoo juga kalah indah rambutnya dengan rambut Tanti yang sekarang ini.
Tanti ini anak orang cukup berada. Keluarganya berasal dari Halmahera Barat. Sejak SMA Tanti sudah dititipkan dirumah pamannya di Bandung. Sampai lulus SMA pindah ke Jakarta beberapa bulan untuk meneruskan kuliah. Sayangnya, pergaulan Jakarta membuat Tanti malas kuliah.
“Gue keasikan main jadinya beb” ujar Tanti dengan gaya bicaranya yang sangat “gaul” itu. Padahal, dari lahir sampai besar saya ini anak Jakarta. Tapi ilmu gaul saya kalah jauh sama Tanti yang anak perantauan itu.
“Terus loe de o?” (do : drop out dari kuliah)
“Ya sebelum di de o, gue out sendiri aja. Biar lebih terhormat”
“Orang tua lo? Pasti kecewa” saya ingat kekecewaan mama waktu saya menolak kuliah dan memilih ikut kursus kecantikan. Sekarang mama lebih kecewa lagi karena saya akan jadi pramugari. Sebuah profesi yang telah melukai hati mama dengan trauma. Sebuah profesi yang buat mama ngga beda jauh dengan pelacur.
“mereka nggak tau. Mereka taunya gue masih kuliah di fakultas hukum” tanti tersenyum nakal.
“Hah? Kok bisa?”
“Ya, om gue aja di Bandung nggak tau kalo sebentar lagi gue akan terbang tingiiiiiii jadi pramugari. Hahahaha” tanti malah tertawa. Seakan-akan bohong itu sesuatu yang menyenangkan buat dia.
“Kalo ketahuan gimana?” Saya penasaran banget dibuatnya. Kok ada orang bohong dengan ekpresi puas begini ya? Buat saya, bohong itu adalah sesuatu yang menyiksa. Contohnya waktu saya menutupi kejadian naas itu. Saya nggak tahan. Makanya akhirnya saya curahkan semua di hadapan Bu Nancy.Bahkan dihadapan mama pun saya mengakuinya. Karena saya nggak tahan menyimpan kebohongan terlalu lama. Takut membusuk di dalam hati dan meracuni organ-organ tubuh saya yang lain. Lagipula ada pepatah bilang : sesuatu yang busuk lambat laun baunya akan tercium juga.
“Kalo keatahuan ya…sudah. Pokoknya gue sudah dapat apa yang gue mau. Kalo sekarang gue jujur, gue bakalan stress karena pasti diomelin gara gara berhenti kuliah” Tanti meneruskan “Lagian, kalo mereka tau gue stop kuliah, uang kiriman bakal di stop! Gue makan apa dong?”
“Jadi lo masih dapat kiriman dari orang tua lo?”
“Yoi. Mereka ada duit kok, gue ngga morotin mereka” ujar tanti enteng.
“enak dong. Nggak kaya gue” saya merenung.
“emang lo ga dibiayain ortu lo lagi beb?” Tanti kayaknya rada heran.
Saya menggeleng.
“jadi lo hidup pake duit darimana? Loe nge kos siapa yang bayar?”
“Bayar pake tabungan. “
“Tabungan? Nah, duit tabungan itu loe dapat darimana? “Tanti seperti nyelidikin “aaahh gue tau deh…loe simpenan ya?”
“hah???” saya kaget mendengar tebakan Tanti.
“tenang beb, gue nggak bakal menghina loe kok. Bagi gue sah-sah aja. Hidup kan pilihan,”
“Gue bukan cewek simpenan!” saya pun protes.
“Terus darimana duit loe? Udahlah, sama gue ga usah gengsi-gengsian” Tanti menyalakan rokoknya. Oh ya, Tanti memang perokok berat. Saya tidak tahu bagaimana cara Tanti menghentikan kebiasaan ngebulnya itu nanti. Kalau sudah harus dinas menempuh rute-rute panjang. Pasti Tanti stress karena di pesawat bahkan di bandara tidak boleh merokok. “Gue juga dulu pernah di piara om-om”
“what???” mata saya terbelalak.
Rasanya tidak percaya. Soalnya tanti kan bukan orang susah? Masih dapat kiriman uang dari orang tua. Tidak seperti saya yang rasa kesulitan soal ekonomi. Kalaupun mau jadi peliharaan om-om, harusnya saya lebih punya alasan. Tekanan ekonomi , kira kira begitu.
“Loe gak pernah makan kuliahan sih ya? Maksud gue, loe ga pernah kuliah kan?”
Saya menggeleng.
“Jangan pikir kampus itu tempat orang yang serius belajar . Ngga semuanya niat jadi sarjana. Banyak yang kuliah sekedar dapat status ‘mahasiswi” supaya tarifnya naik dan penyamarannya ngga ketahuan!”
“Maksud loe?” saya makin bingung.
“Yah, banyak ayam yang menyamar jadi mahasiswi. Bahkan banyak yang sengaja disekolahin sama sugar dadynya, “
“sugar apa?”
“Sugar dady. Itu istilah om-om yang melihara mahasiwi beb” tanti menjelaskan sembari menyalakan sebatang rokok lagi. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari pendidikan. Hari terakhir. Tanti katanya mau nraktir saya makan-makan untuk merayakan hari terakhir masa pendidikan kami ini.
Lalu Tantipun meneruskan ceritanya soal pengalamannya di kampus. Bahwa dia justru mengenal dunia “ayam” di bangku kuliah. Kata Tanti, dia dikenalkan temannya yang sudah duluan nyebur menjalani profesi kamuflase ini. Kamuflase maksudnya : status mahasiswi tapi pekerjaan sebenarnya adalah escort. Istilah sopan buat “jual diri”. Kata Tanti, escort itu tidak sama dengan pelacur.
“Pelacur itu kan menjajakan diri di pinggir jalan, atau di bar-bar. Kalo escort nggak sehina itu beb. Kita milih-milih client. Client kita bukan orang sembarangan yang mungut kita dari pinggir jalan! Client kita orang-orang terhormat yang minimal punya rumah dan punya mobil!” tanti menjelaskan dengan rasa bangga. Seakan-akan pekerjaan itu adalah pekerjaan terhormat. Padahal, menurut mama, pramugari saja beda tipis sama pelacur. Apalagi kalau mama tau soal profesi escort ini. Bisa kena stroke mama saya!
Waktu pertama kenalan dengan si Om bernama Marcus itu, Tanti langsung terlena.
“bayangin aja, baru kenal, gue udah diajak belanja ke mall. Ke butik mahal! Si Om naruh kartu kreditnya dikasir. Terus dia pergi sebentar, katanya ada janji sama orang di mall yang sama. Gue sama teman gue itu bebas beli apa aja di butik itu. Tinggal gesek kartunya si om! Apa nggak gokil?”
“Tapi habis itu pasti ada imbalannya kan? Maksud gue, pasti si Om menginginkan sesuatu dari lo kan?”
“ya iyalah! Emang gue bego! Gue udah siap lah dengan resiko itu. Teman gue juga udah ngebisikin.”
“Dan buat loe, that’s okay?” semudah itukah seseorang memutuskan untuk menjadi escort?
Tanti manggut.
“I’ve got nothing to loose beb. Gue udah ga perawan lagi sejak SMA!”
GLEK.

BACA LANJUTANNYA KLIK DISINI

CERITA SEBELUMNYA KLIK DISINI


Hotel Room

1 comment:

  1. Jiaaaaagh padahaL udah serius banget baca'ä tadi ternyata Lum keLar hiks hiks

    ReplyDelete